Jakarta (BIMAS HINDU) — Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Biro Humas dan Komunikasi Publik menggelar Dialog Media bertajuk “Kemenag dan Kesejahteraan Guru Agama”, pada Rabu (29/10/2025) di Yuan Garden Hotel, Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai unsur di lingkungan Kemenag, di antaranya Sekretaris Jenderal Kemenag Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, Staf Khusus Menteri Agama, serta para Direktur Jenderal Bimas Kristen, Dirjen Bimas Katolik, Dirjen Bimas Buddha, dan Dirjen Bimas Hindu Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si, serta Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan, dan Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu.

Dialog ini diikuti oleh para jurnalis media nasional dan daerah yang tergabung dalam Forum Wartawan Kemenag, sebagai bagian dari upaya desiminasi program prioritas Kemenag yang berdampak langsung pada kesejahteraan guru agama di seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si, menegaskan pentingnya memuliakan peran guru dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
“Secara etimologis, kata guru berasal dari bahasa Sanskerta, Gu berarti kegelapan dan Ru berarti menghilangkan. Guru adalah sosok yang menghapus kegelapan — pembawa cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan,” jelas Prof. Duija.
Beliau menambahkan, Menteri Agama pernah menyebut guru sebagai sosok yang menyalakan pelita pengetahuan, mengubah kegelapan menjadi terang, dan menjadikan manusia beradab.

Dalam perspektif ajaran Hindu, kesejahteraan guru juga berkaitan erat dengan konsep Catur Guru, yaitu empat bentuk pengabdian:
1. Guru Swadhyaya (pengabdian kepada Tuhan),
2. Guru Wisesa (pengabdian kepada pemerintah),
3. Guru Rupaka (pengabdian kepada orang tua), dan
4. Guru Pengajian (pengabdian kepada pendidik).
“Kesejahteraan sejati lahir ketika keempat bentuk pengabdian ini berjalan selaras. Dharma menjadi dasar, dan pelayanan menjadi jalan,” ujar Prof. Duija.
Hingga saat ini, terdapat 139 Widyalaya (satuan pendidikan Hindu) di seluruh Indonesia, dengan total 734 guru dan 3.083 siswa.
Rinciannya meliputi:
• Pratama Widyalaya: 106 lembaga, 406 guru, 2.316 siswa
• Adi Widyalaya: 16 lembaga, 120 guru, 785 siswa
• Madyama Widyalaya: 10 lembaga, 125 guru, 294 siswa
• Utama Widyalaya: 5 lembaga, 71 guru, 364 siswa
• Utama Widyalaya Kejuruan: 2 lembaga, 12 guru, 44 siswa
Selain itu, terdapat 6.960 guru pendidikan agama Hindu yang mengajar di sekolah umum di berbagai jenjang pendidikan.
Dirjen Bimas Hindu juga memaparkan berbagai program nyata dalam mendukung kesejahteraan guru Hindu, baik secara lahir maupun batin.
Program-program tersebut antara lain:
1. Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan
Anggaran: Rp2.943.200.000
Sasaran: 3.771 guru
2. Insentif Guru Non-PNS Belum Serdik
Anggaran: Rp250.000 per bulan
Sasaran: 1.709 guru
Total: Rp5.125.750.000
3. Tunjangan Profesi Guru Non-ASN
Anggaran: Rp2.000.000 per bulan
Sasaran: 175 guru
Total: Rp5.082.880.000
4. Bantuan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan MGMP Hindu
Sasaran: 227 lembaga
Total: Rp6.211.100.000
“Total dukungan mencapai lebih dari Rp19 miliar. Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara untuk memastikan guru agama Hindu memperoleh kesejahteraan yang layak,” ujar Prof. Duija.
Bantuan KKG/MGMP ini digunakan untuk pelatihan peningkatan kompetensi, penyusunan kurikulum dan P5, pengembangan materi ajar, penelitian tindakan kelas, serta pembuatan bank soal dan instrumen penilaian yang berkualitas.
Selain kesejahteraan lahir, Prof. Duija menekankan pentingnya kesejahteraan batin bagi para guru.
Menurutnya, kesejahteraan batin tumbuh dari kehadiran negara yang memberikan pengayoman, kepastian hukum, serta pengakuan atas jasa para guru agama.
“Negara hadir bukan hanya memberi insentif, tetapi juga menghadirkan penghargaan dan rasa aman bagi para guru,” tegasnya.
