Perkuat Literasi Moderasi Beragama, CPNS Bimas Hindu Belajar Toleransi Lewat Film

Perkuat Literasi Moderasi Beragama, CPNS Bimas Hindu Belajar Toleransi Lewat Film

Jakarta (BIMAS HINDU) - Literasi adalah kunci untuk menumbuhkan kesadaran dan membangun nilai, dan kini, maknanya kian meluas. Tidak hanya sebatas membaca buku, literasi juga mencakup pemahaman mendalam terhadap keberagaman, termasuk melalui literasi moderasi beragama. Konsep ini menjadi sangat penting, terutama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yang berperan sebagai perekat persatuan bangsa.

Perpustakaan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama (Kemenag) berinovasi dengan cara yang unik dan menyentuh. Mereka mengadakan acara nonton bareng (nobar) film bertema kerukunan, bekerja sama dengan Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, dengan tujuan ganda: meningkatkan literasi melalui media audio visual sekaligus memperkuat pemahaman moderasi beragama di kalangan ASN.

Sebanyak 16 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Bimas Hindu antusias mengikuti acara ini. Mereka menyaksikan dua film pendek yang syarat makna: "Liang" dan "Menyapa Terang di Ujung Malam". Kedua film tersebut mengisahkan tentang pentingnya menjaga kerukunan, menghargai keberagaman, dan hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang majemuk.

Sesi nobar ini tidak berhenti di layar. Usai penayangan, peserta diajak untuk berdiskusi dan berbagi refleksi. Jerome Luther William, salah satu CPNS, merasa tercerahkan oleh film kedua. “Sangat jelas bahwa kita bisa hidup berdampingan, saling menopang daripada terpecah,” ungkapnya di Mini Theater Perpustakaan BMBPSDM.

Pandangan senada juga disampaikan oleh Gunadi, yang teringat kutipan legendaris Gus Dur, "Tidak peduli apa agamamu, yang orang ingat adalah kebaikanmu." Kutipan ini menegaskan bahwa kebaikan hati dan toleransi adalah nilai universal yang melampaui sekat-sekat agama.

Diskusi semakin mendalam ketika Saraswati Yoga Andriyanib mengaitkan isi film dengan konstitusi negara. “Film pertama sesuai dengan Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 tentang kebebasan beragama. Film kedua mengajarkan kita untuk toleran, tidak ekstrem, dan saling menghargai,” jelasnya. Pemahaman ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai luhur bangsa tercermin dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam seni film.

Luh Dewi Putri Mariawan juga menambahkan perspektif yang menarik, menilai bahwa atmosfer perpustakaan yang rapi dan nyaman sangat mendukung lahirnya dialog yang sehat. Ia juga membagikan bagaimana prinsip moderasi dijalankan dalam ajaran Hindu, yaitu "Satya, Siwam, dan Sundaram" kebenaran, kebaikan, dan keindahan—sebagai pedoman untuk mencapai harmoni.

Sesi diskusi ditutup dengan pesan yang menyentuh dari Jerome, yang membagikan perspektif dari ajaran Kristen. “Kami diajarkan untuk mengasihi sesama. Nilai ini bisa diterapkan seluruh masyarakat Indonesia agar semakin rukun dan erat hubungannya, tanpa memandang agama. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?,” pesannya, menekankan pentingnya inisiatif personal dalam membangun kerukunan.

Selain nobar dan diskusi mendalam, acara ini juga diselingi oleh games interaktif Kahoot yang menguji pemahaman peserta seputar moderasi beragama dan profil Kemenag RI. Metode pembelajaran yang menyenangkan ini berhasil meningkatkan antusiasme dan partisipasi aktif dari para CPNS.

Melalui pendekatan inovatif ini, Perpustakaan BMBPSDM Kemenag berhasil menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dengan cara yang lebih mudah diterima, menyentuh, dan berkesan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga menumbuhkan sikap toleransi yang kuat di kalangan ASN, menjadikan mereka garda terdepan dalam merawat kerukunan di tengah keberagaman bangsa.


Berita Pusat LAINNYA