Jakarta (BIMAS HINDU) – Umat Hindu di wilayah Cibubur dan sekitarnya melaksanakan Pujawali ke-29 di Pura Widya Dharma Cibubur pada Minggu, 7 September 2025, bertepatan dengan Purnama Sasih Ketiga. Acara sakral ini mengangkat tema “Pujawali sebagai Spirit Kebersamaan untuk Indonesia Berdaya dan Bermartabat”.
Panitia Pujawali mengundang Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si, untuk menyampaikan Dharma Wacana pada malam puncak Pujawali. Kehadirannya diharapkan memberi pencerahan mengenai makna yadnya, karma, dan dharma yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Prof. I Nengah Duija menyampaikan Dharma Wacana dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya memahami kesakralan persembahyangan serta penerapan ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari.
Dirjen Bimas Hindu menjelaskan bahwa persembahyangan dalam ajaran Hindu bukan sekadar rutinitas, tetapi jalan untuk menyucikan diri, mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), sekaligus menjaga keseimbangan antara Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia).
“Kesakralan sembahyang ditentukan oleh tempat suci, sarana persembahan, sikap batin, serta waktu suci. Semuanya harus dilandasi ketulusan bhakti agar sembahyang benar-benar membawa pencerahan dan kedamaian,” ujar Prof. I Nengah Duija.
Beliau juga menekankan pentingnya melaksanakan Tri Sandhyā sembahyang pagi, siang, dan sore sebagai waktu sakral setiap hari. Menurutnya, setiap momen memiliki makna spiritual: pagi melambangkan lahirnya kehidupan, siang sebagai puncak aktivitas, dan sore sebagai simbol kembalinya ciptaan pada asalnya. Selain itu, waktu niskala seperti Brahma Muhurta dan Sandhyā Kala diyakini sangat baik untuk meditasi dan japa mantra.
“Dengan memahami dan melaksanakan makna kesakralan sembahyang serta ajaran Tri Hita Karana, kita tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga mempertegas jati diri umat Hindu dalam membangun kehidupan yang damai, berdaya, dan bermartabat,” pungkasnya.
Melalui Pujawali ini, umat Hindu di Jakarta bukan hanya memperkuat bhakti secara spiritual, tetapi juga mempertegas komitmen hidup rukun dan bermartabat di tengah keberagaman Indonesia.