UDG Nasional XVI Disiapkan Lebih Inklusif, Padukan Dharma Gita, Budaya, dan Penguatan Ekonomi Daerah

UDG Nasional XVI Disiapkan Lebih Inklusif, Padukan Dharma Gita, Budaya, dan Penguatan Ekonomi Daerah

Jakarta (Bimas Hindu) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu terus mematangkan persiapan pelaksanaan Utsawa Dharmagita (UDG) Nasional XVI Tahun 2027 yang akan dilaksanakan di Sulawesi Tengah. Selain menjadi ajang pelestarian seni baca dan seni suara keagamaan Hindu, kegiatan ini dirancang lebih inklusif dengan mengintegrasikan unsur budaya, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi daerah.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi persiapan materi pemaparan yang akan digunakan dalam audiensi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terkait dukungan penyelenggaraan UDG Nasional XVI Tahun 2027. Rapat diikuti oleh jajaran pimpinan dan tim teknis di lingkungan Ditjen Bimas Hindu.

Direktur Urusan Agama Hindu, Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, menegaskan bahwa UDG merupakan agenda berskala nasional yang membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak.

“Keberhasilan Utsawa Dharmagita tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh sinergi seluruh pihak, baik dari aspek sumber daya manusia, kemampuan teknis, maupun dukungan anggaran. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci utama,” ujarnya.

Menurutnya, rangkaian kegiatan UDG Nasional akan dibangun melalui tiga komponen utama, yakni pembukaan, pelaksanaan lomba, dan penutupan. Masing-masing bagian akan dirancang secara rinci agar mampu menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bernilai keagamaan, tetapi juga menarik bagi masyarakat luas.

Dalam rapat tersebut, muncul berbagai gagasan untuk memperkuat daya tarik kegiatan, di antaranya parade budaya, penanaman pohon, pameran UMKM, hingga upaya mencatatkan rekor MURI melalui pelibatan ribuan peserta dalam kegiatan budaya. Konsep tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat penyelenggaraan UDG sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi daerah tuan rumah.

Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, menekankan pentingnya penyajian konsep yang kuat dan berbasis data dalam bahan presentasi yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah.

“Argumentasi yang dibangun harus kuat, faktual, dan didukung data yang valid. Pemerintah daerah perlu melihat bahwa kegiatan ini bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga memiliki dampak sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi yang nyata,” kata Prof. Duija.

Ia juga meminta agar identitas Hindu Nusantara ditampilkan secara kuat dalam materi presentasi, baik melalui visualisasi pura, candi, kitab suci, maupun ragam budaya nusantara yang mencerminkan kekayaan tradisi Hindu di Indonesia.

Selain membahas substansi acara, rapat juga menyoroti pentingnya penyusunan data peserta dan dampak ekonomi yang dapat dihasilkan dari penyelenggaraan kegiatan. Panitia diminta menyiapkan estimasi jumlah peserta, pendamping, panitia, undangan, hingga pengunjung yang diperkirakan hadir selama pelaksanaan kegiatan.

Data tersebut dinilai penting untuk memberikan gambaran kepada pemerintah daerah mengenai potensi perputaran ekonomi yang dapat dirasakan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan usaha mikro selama berlangsungnya kegiatan nasional tersebut.

Pada aspek teknis, panitia juga membahas penentuan lokasi kegiatan, transportasi, serta mekanisme pengerahan massa. Beberapa alternatif lokasi di Sulawesi Tengah mulai dipetakan, termasuk kemungkinan pelaksanaan kegiatan pendukung di luar Kota Palu guna mendukung program penanaman ribuan pohon yang menjadi bagian dari rangkaian acara.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Dr. Ida Made Pidada Manuaba menegaskan bahwa penyempurnaan bahan presentasi harus segera dilakukan agar siap digunakan dalam audiensi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pada awal Juli mendatang.

Mereka juga mendorong agar kegiatan UDG Nasional mampu menghadirkan ruang promosi bagi produk dan kuliner lokal melalui pelibatan UMKM, sehingga manfaat penyelenggaraan tidak hanya dirasakan peserta, tetapi juga masyarakat setempat.

Menutup rapat, Kasubdit Kelembagaan I Wayan Budiarta mengingatkan pentingnya membangun budaya kerja kolaboratif dalam menyukseskan agenda nasional tersebut.

“Kita perlu mengubah pola pikir dari Super Me menjadi Super Team. Kegiatan sebesar ini hanya dapat berhasil apabila seluruh unsur saling mendukung dan bekerja bersama sesuai perannya masing-masing,” tegasnya.

Dengan berbagai persiapan yang tengah dilakukan, UDG Nasional XVI Tahun 2027 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi Dharma Gita, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya, penguatan karakter generasi muda Hindu, serta penggerak ekonomi masyarakat melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

#Bimas Hindu #UDG 2027 #Hindu #Zona Integritas


Berita Pusat LAINNYA