Jakarta (Bimas Hindu) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menyelenggarakan kegiatan Penguatan Moderasi Beragama Bagi Pembina Dharmagita Tahun 2025, pada Jumat–Minggu, 31 Oktober–2 November 2025, bertempat di Hotel Harper MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur.
Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Moderasi Beragama Melalui Seni Baca Susastra Weda dan Teo-Ekologi dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045” yang diikuti oleh 67 peserta terdiri atas 23 peserta luring dari LPDG Pusat, LPDG Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, serta perwakilan Ditjen Bimas Hindu dan panitia, serta 44 peserta daring dari pengurus dan pembina LPDG provinsi seluruh Indonesia.
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Urusan Agama Hindu, Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penguatan moderasi beragama berbasis nilai-nilai Weda dan budaya Hindu yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana.

“Kami menaruh harapan kepada seluruh LPDG baik pusat maupun daerah agar Dharmagita menjadi sarana penyebaran ajaran suci susastra Weda. Melalui seni baca dan pemahaman ajaran Weda, umat Hindu dapat memperkuat sradha dan bhakti, serta menumbuhkan karakter umat yang moderat dan berkeadaban,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. I Gusti Made Sunartha menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah pembinaan dan konsolidasi nasional bagi para Pembina Dharmagita untuk memperkuat fondasi kelembagaan Hindu dalam bidang seni baca Weda dan budaya keagamaan.
Sementara itu, Ketua LPDG Pusat Kolonel Inf. (Purn) I Nengah Dana, S.Ag. dalam sambutannya menyampaikan bahwa perubahan fokus kegiatan tahun ini dari pembinaan ke penguatan kelembagaan dilakukan berdasarkan arahan Ditjen Bimas Hindu.
“Program yang wajib dilaksanakan tahun ini meliputi penyempurnaan AD/ART, penyusunan Pedoman Utsawa Dharmagita (UDG), dan penyelarasan draft KMA yang menjadi dasar hukum bagi LPDG di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Ia juga memohon pemakluman kepada seluruh LPDG daerah karena kegiatan ini difokuskan pada penguatan regulasi dan aspek legal yang menjadi kebutuhan mendesak.
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber nasional dengan topik beragam yang memperkaya wawasan peserta.
1. Drs. I Ketut Donder, M.Ag. menyampaikan materi Penerapan Teo-Ekologi Hindu dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara, yang menekankan pentingnya harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam melalui konsep Tri Hita Karana.
2. Kolonel Inf. (Purn) I Nengah Dana, S.Ag. membahas Implementasi Ajaran Susila Berbasis Budaya Keagamaan Hindu, yang menyoroti pentingnya etika kehidupan (Susila) untuk menumbuhkan karakter moderat dan harmonis.
3. Dr. Putu Sastra Wingarta memaparkan topik Ketahanan Nasional di Tengah Dinamika Lingstra Global, Regional, dan Nasional dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Emas 2045, dengan menegaskan peran agama sebagai benteng ketahanan nasional.
4. I Nyoman Lastra, S.Pd, M.Ag membahas tentang Peran Tokoh Masyarakat dalam Penguatan Moderasi Beragama
5. Drs. I Nengah Medera, mengangkat tema Mabebasan Sebagai Media Pendalaman Ajaran Hindu untuk Penguatan Moderasi Beragama, yang menjelaskan peran tradisi mabebasan dalam memperkuat literasi keagamaan, toleransi, dan empati sosial berdasarkan ajaran Tat Tvam Asi dan Ahimsa.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan memperdalam pemahaman tentang peran Dharmagita sebagai sarana pendidikan spiritual dan sosial yang inklusif.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Pembina Dharmagita mampu menjadi agen perubahan dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama, menanamkan keseimbangan spiritual, sosial, dan ekologis di tengah masyarakat, serta meneguhkan semangat menuju Indonesia Emas 2045 yang harmonis dan berkeadaban.