AGAMA SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh : Hariono, S.Ag
Penyuluh Muda Agama Hindu
Kantor Kementerian Agama Kab. Konawe Selatan
Om Swastyastu,
Tujuan Pembangunan Indonesia adalah membangun masyarakat adil makmur berdasarkan
Pancasila. Pembangunan tidak hanya pada Pembangunan Fisik saja tetapi juga Pembangunan
Sumber Daya Manusia, salah satu Targetnya mewujudkan Generasi Emas 2045. Dan
Pembangunan yang mendasar untuk mencapai target ini adalah Pendidikan, penguasaan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Dalam Pengembangan SDM tidak berfokus pada ilmu
Pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga perlu diimbangi dengan Pendidikan Agama, agar
masyarakat Indonesia sejahtera secara lahir dan batin.
Agama adalah ajaran yang suci yang menuntun dan mendidik umatNya untuk menjadi
insan/pribadi yang penuh keluhuran budi dan berkarakter yang baik dalam rangka mencapai
tujuan hidup yang bahagia secara lahir dan bathin yang sering dalam ajaran Agama Hindu
disebut dengan “Moksartham jagadhita ya ca iti dharma” yaitu kebahagiaan di bumi ini
(Jagadhita) dan Pembebasan atau Moksha berdasarkan ajaran kebenaran (Dharma). Dalam
mencapai tujuan hidup ini tentunya ada tahap – tahap dan proses yang harus dilalui.
Bila kita mengikuti ajaran Maharsi Patanjali dalam ajaran Astangga Yoga, sebelum mencapai
tujuan tertinggi umat manusia harus melalui tahap awal yaitu Yama dan yang kedua adalah
Niyama. Yama adalah pengendalian diri pada tataran prilaku, sehingga sebelum mencapai
tujuan kehidupan yang tertinggi umat Hindu harus memiliki perilaku yang baik, dan Niyama
adalah pengendalian diri pada tataran sikap mental yang baik. Jadi dapat dikatakan orang
yang ingin mencapai tujuan tertinggi dalam beragama Hindu (Jagadhita dan Moksha) maka
orang tersebut wajib mengusahakan memiliki prilaku dan sikap yang baik, oleh karenanya
wajib dingatkan akan ajaran Tri Kaya Parisudha yaitu berpikir, berkata dan berbuat yang
baik.
Sebagai Umat beragama Hindu yang tinggal dan hidup di wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia tentunya masih ingat kalimat pada syair lagu kebangsaan Indonesia raya yang
berbunyi “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya”. Syair ini
memberikan gambaran bahwa pembangunan di Negara ini dalam 2 aspek yaitu aspek fisik
dan aspek rohani/mental. Aspek fisik akan mudah dilihat oleh masyarakat luas seperti
bangunan gedung – gedung, pengaspalan jalan, pembangunan jembatan dan bentuk – bentuk
bangunan fisik lainnya tetapi pada aspek mental akan terlihat pada pola prilaku keseharian
dari masyarakat itu sendiri.
Dalam Pemerintahan yang lalu ada Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Dari mana
kita mulai gerakan ini yaitu dari diri sendiri berdasarkan nilai – nilai agama yang diyakini
dalam membangun mental sendiri. Karena membangunan mental/spirit harus dari kesadaran
sendiri dan pemahaman terhadap ajaran yang diyakini.
Untuk memperkuat dan mempercepat Gerakan Nasional Revolusi Mental ada Peraturan
presiden Nomor : 87 Tahun 2017 Tentang Pendidikan Karakter. Salah satu pertimbangannya
ialah bahwa sebagai bangsa yang berbudaya Indonesia menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai
– nilai luhur, kearifan dan budi pekerti. Dalam rangka mewujudkan bangsa dan masyarakat
yang berbudaya, perlu penguatan Pendidikan Karakter.
Apa sih yang dimaksud dengan Penguatan Pendidikan Karakter? penguatan Pendidikan
Karakter (PPK) adalah gerakan Pendidikan dibawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk
memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan
olah raga dengan pelibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan
Masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Jadi tiang
Pendidikan Karakter adalah Keluarga sekolah dan Masyarakat yang didalamnya ada
Pendidikan Agama dan Keagamaan. Di dalam Pendidikan Karakter terdapat Tiga struktur
bathin (Jiwa) manusia yaitu hati, rasa dan pikir serta struktur fisik manusia yaitu raga harus
diolah secara harmonis, sehingga jiwanya tercerahkan dan raganya sehat dan bugar.
Penguatan Pendidikan Karakter ini secara struktural melalui Pendidikan yang dikelola
Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama dan juga perlu keterlibatan kita
sebagai anggota masyarakat dan warga Negara untuk turut serta menyukseskan program ini
baik untuk diri kita, anak – anak kita dan masa depan Negeri kita.
Apakah tujuan dilaksanakan Penguatan Pendidikan Karakter? Tujuan Penguatan Pendidikan
Karakter ada 3 yaitu :
1. Membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Tahun 2045 dengan
jiwa Pancasila dan Pendidikan Karakter yang baik guna menghadapi dinamika
perubahan di masa depan;
2. Mengembangkan platform Pendidikan Nasional yang meletakkan pendidikan
Karakter sebagai jiwa utama dalam Penyelenggaraan Pendidikan bagi peserta didik
dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal,
non formal dan Informal dengan memperhatikan keragaman budaya Indonesia;
3. Merevitalisasi dan memperkuat potensi dan Kompetensi Pendidik, tenaga
kependidikan, peserta didik, masyarakat dan lingkungan keluarga dalam
mengimplementasikan Penguatan Pendidikan Karakter.
Bila dipahami dengan seksama Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter ini bersifat visioner,
berwawasan jauh kedepan, untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia menghadapi masa
depan yang dinamis, penuh tantangan, dan juga memberikan harapan. PPK dilaksanakan
dengan menerapkan nilai – nilai Pancasila dalam Pendidikan Karakter terutama meliputi nilai
– nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin
tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai,
gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.
Nilai – nilai yang disebutkan didepan merupakan nilai utama yang dapat dilengkapi dengan
nilai – nilai luhur warisan budaya bangsa dan kearifan lokal yang memperkaya nilai – nilai
utama tersebut. Untuk melakukan Penguatan Pendidikan Karakter digunakan tiga prinsip
sebagai berikut :
1. Berorientasi pada berkembangnya potensi peserta didik secara menyeluruh dan terpadu;
2. Keteladanan dalam penerapan pendidikan;
3.Berlangsung melalui pembiasaan dan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari – hari.
Prinsip pertama dimaksudkan untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi
suputra (anak) yang berkepribadian luhur, yang mempunyai karakter yang baik. Seorang
Suputra menjadi cahaya yang menyejukkan bagi keluarga dan masyarakat, bagaikan
rembulan yang bersinar lembut menerangi kegelapan malam. Prinsip kedua menekankan
pentingnya suri tauladan. Keteladanan lebih berarti daripada seribu kata. Contoh yang baik
dari : Orang tua, Guru, Pemuka Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Politik, Pemimpin dan
Pemerintahan dapat mempengaruhi perilaku peserta didik dan pada gilirannya akan
membentuk karakter mereka. Dan Sayangnya sekarang keteladanan semakin langka
diperoleh. Setiap hari media massa mengabarkan prilaku tidak terpuji (Misalnya berita
oknum pejabat terlibat korupsi dan penyalahgunaan Narkoba) dari oknum yang menduduki
posisi penting dalam masyarakat, baik dalam supra maupun infrastruktur politik, Orang tua
menganiaya anaknya atau sebaliknya anak menganiaya orang tuanya. Hal ini sangat
memalukan dan tidak mendidik, karena itu harus ditindak tegas agar perilaku buruk tersebut
tidak mencemari pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter.
Dan Prinsip ketiga menekankan pentingnya pembiasaan dalam kehidupan sehari – hari
sepanjang waktu. Nilai – nilai yang di ajarkan dalam Penguatan Pendidikan Karakter harus
diterapkan, harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari – hari sehingga menjadi kebiasaan
yang baik. Nilai – nilai yang tidak dilaksanakan dalam praktek kehidupan sehari – hari yang
tidak dibiasakan hanyalah angan – angan. Perubahan apalagi revolusi mental, sulit dibayang.
Sastra suci menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dipelihara dengan mempraktekkannya
dalam kehidupan sehari – hari secara tulus dan iklas.
Bagaimana peran kita sebagai umat Beragama Hindu yang hidup di dalam Wilayah Republik
Indonesia ini? Penguatan Pendidikan Karakter sejalan dengan prinsip pendidikan dalam
ajaran Hindu. Tahapan kehidupan dalam Catur Asrama diawali dengan menuntut ilmu
pengetahuan dengan berguru kepada Acharya. Tahapan kehidupan ini disebut “Brahmacarya”
sebagai tahap awal dalam kehidupan manusia di jalan dharma. Dalam Masa Brahmacarya
seorang Brahmacari mempersiapkan kehidupannya untuk memasuki tahapan asramanya
selanjutnya. Seorang Brahmacari berguru kepada Acharya/Guru untuk peningkatan budi dan
spiritualnya sampai umur 24 Tahun, kemudian kembali ke masyarakat dengan baju dan
kemampuan yang baru.. Pediksaan seorang murid oleh gurunya bukan hanya merupakan
inisiasi formal, melainkan terdapat hubungan pribadi antara guru dan murid. Murid seakan –
akan ditempatkan dalam badan gurunya. Karena itu setelah menyelesaikan masa studi
“Brahmacarya” murid seperti dilahirkan sebagai orang yang sangat mulia dari “Kandungan”
Gurunya. Upacara Pensudian murid dalam Kitab Suci Atharva Weda dimaknai sebagai
transisi dari kemanusiaan menuju Ketuhanan.
Kitab Suci Weda Sruti dan Smerti kaya dengan nilai – nilai Pendidikan Penguatan Karakter.
Umat Hindu dapat memberikan sumbangan bernilai kepada Pelaksanaan Penguatan
Pendidikan Karakter dengan memberikan Pendidikan Agama Hindu yang baik kepada anak –
anaknya baik melalui pendidikan formal, non formal maupun informal. Organisasi
keagamaan dan Lembaga Pendidikan Hindu diharapkan mampu menggali nilai – nilai dalam
ajaran Agama Hindu kemudian mempersembahkan kepada bangsa Indonesia untuk
memperkaya penguatan Karakter.
Selain itu pemuka agama dan segenap umat Hindu diharapkan menjadi teladan dalam
membiasakan pelaksanaan nilai – nilai kejujuran (Arjawa), tidak mementingkan diri sendiri
(Anresangsa), dapat menasehati diri sendiri (Dama), mengekang hawa nafsu
(Indriyanigraha) dan sabar/pemaaf (Ksama) sebagai jalan hidup yang sesuai dengan
Dharma. Kitab Saracamuccaya sloka 162 mengajarkan bahwa tingkah laku yang baik
merupakan alat untuk menjaga dharma.
Pada prinsipnya ajaran agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk mendidik anaknya
menjadi Pribadi yang baik (Suputra) yang mampu menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha,
Tri hita Karana, Yama dan Nyama dalam lingkungan sosialnya sehingga anak – anak Hindu
memiliki karakter yang baik. Hal ini selaras dengan prinsip Penguatan Pendidikan karakter
yaitu Pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh, keteladan dan pembiasaan hal
– hal baik dalam keseharian yang dilandasi Pendidikan Agama yang baik pula.
Om Santih, Santih, Santih Om