Mimbar Hindu (Bimas Hindu) - Bulan Aadi Masam merupakan salah satu periode suci yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Hindu Tamil. Bulan yang berlangsung antara pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus dalam kalender Tamil ini dipersembahkan kepada Sakthi, yaitu kekuatan ilahi Tuhan yang menjadi sumber energi, perlindungan, dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Oleh karena itu, Aadi Masam menjadi momentum penting bagi umat Hindu Tamil untuk meningkatkan sradha dan bhakti melalui persembahyangan, upacara keagamaan, kegiatan sosial, serta berbagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan sesama.
Dalam perspektif teologi Hindu, konsep Sakthi menempati posisi yang sangat penting. Sakthi dipahami sebagai energi kosmis yang memungkinkan seluruh proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta berlangsung. Tanpa Sakthi, manifestasi ketuhanan tidak dapat menjalankan fungsi kosmisnya. Pemahaman tersebut tercermin dalam berbagai literatur Hindu, salah satunya Devi Mahatmyam, yang menegaskan bahwa Devi hadir dalam seluruh makhluk sebagai kekuatan kehidupan dan sumber perlindungan bagi umat manusia.
Aadi Masam juga memiliki keterkaitan dengan berbagai kisah dalam Purana yang mengisahkan kemuliaan dan kekuatan Devi. Salah satu yang paling dikenal adalah kisah kemenangan Dewi Durga atas Mahisasura. Dalam narasi tersebut, para dewa yang tidak mampu mengalahkan kekuatan adharma kemudian memancarkan energi ilahi yang menyatu menjadi Mahadevi Durga. Dengan kekuatan Sakthi-Nya, Mahadevi berhasil menaklukkan Mahisasura dan memulihkan keseimbangan dharma di alam semesta. Kisah ini mengandung pesan filosofis bahwa kekuatan spiritual dan keyakinan kepada Tuhan akan mampu mengalahkan berbagai bentuk kegelapan, penderitaan, dan ketidakadilan dalam kehidupan manusia.
Selain dimensi teologis, Aadi Masam juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah Aadi Kanji, yaitu tradisi membagikan bubur kepada umat dan masyarakat. Di berbagai kuil Hindu Tamil, penyajian dan pembagian bubur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Aadi Masam.
Secara historis, tradisi Aadi Kanji diyakini berkembang sebagai bentuk kepedulian sosial masyarakat terhadap kondisi kesehatan dan kebutuhan pangan pada masa pergantian musim. Bubur yang disiapkan dari berbagai bahan pangan dan rempah-rempah kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas anugerah Tuhan sekaligus bentuk pelayanan kemanusiaan. Dalam konteks ajaran Hindu, tradisi ini mencerminkan implementasi nilai Dana atau berbagi kepada sesama, yang merupakan salah satu bentuk nyata pengamalan dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Di samping tradisi Aadi Kanji, Aadi Masam juga identik dengan penyelenggaraan Tiruvila di berbagai kuil dan rumah ibadah Hindu Tamil. Tiruvila merupakan perayaan keagamaan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan sekaligus ungkapan syukur atas berbagai anugerah yang diterima umat.
Dalam tradisi Hindu Tamil dikenal konsep Venduthal atau nazar, yaitu janji spiritual yang dihaturkan kepada Tuhan ketika seseorang memohon keselamatan, kesehatan, kemudahan rezeki, keberhasilan pendidikan, keharmonisan keluarga, maupun berbagai harapan lainnya. Ketika doa dan harapan tersebut memperoleh anugerah dari Tuhan, umat kemudian melaksanakan Tiruvila sebagai bentuk pemenuhan nazar sekaligus ungkapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa.
Karena itu, Tiruvila tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kegiatan seremonial atau perayaan budaya. Tiruvila merupakan ekspresi bhakti yang memiliki makna spiritual mendalam. Berbagai rangkaian upacara seperti Abhishekam, Alangkaram, Archanai, persembahan prasadam, pembacaan kidung suci, hingga pelayanan kepada umat menjadi bagian integral yang memperkuat hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Di Sumatera Utara, pelaksanaan Tiruvila pada bulan Aadi dapat dijumpai hampir di seluruh kuil Hindu Tamil. Setiap rumah ibadah memiliki kekhasan dan tradisi masing-masing, namun seluruhnya berlandaskan semangat yang sama, yaitu memperkuat bhakti, melestarikan warisan leluhur, serta membangun solidaritas sosial di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Dari perspektif sosial-keagamaan, keberlangsungan tradisi Aadi Masam menunjukkan bahwa agama dan budaya memiliki hubungan yang saling menguatkan. Agama memberikan nilai-nilai spiritual dan moral, sedangkan budaya menjadi media yang menjaga nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam praktik kehidupan masyarakat. Melalui Aadi Kanji dan Tiruvila, umat Hindu Tamil tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga mewariskan identitas budaya, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan kepedulian sosial antarsesama.
Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya dan agama, Aadi Masam menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi keagamaan dapat berkembang secara harmonis sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Nilai-nilai bhakti, gotong royong, rasa syukur, pelayanan sosial, serta penghormatan terhadap leluhur yang terkandung dalam perayaan ini menjadi kontribusi nyata umat Hindu dalam memperkuat kehidupan beragama yang moderat, inklusif, dan berkeadaban.
Dengan demikian, Aadi Masam bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Tamil, melainkan momentum spiritual yang mengajarkan pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan, berbagi kepada sesama melalui tradisi Aadi Kanji, serta menunaikan nazar melalui pelaksanaan Tiruvila sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh: Dr. Matha Riswan, S.Pd.H., S.Fil., M.Psi