Cinta Alam, Cinta Kehidupan: Implementasi Asta Protas dalam Spirit Tri Hita Karana

Implementasi Tri Hita Karana

Jakarta (BIMAS HINDU) - Dalam ajaran Hindu, harmoni tersebut dirumuskan melalui Tri Hita Karana, yakni tiga relasi utama: Parahyangan (hubungan dengan Tuhan), Pawongan (hubungan dengan sesama), dan Palemahan (hubungan dengan alam). Konsep ini bukan sekadar filsafat, melainkan pedoman hidup yang menuntun manusia untuk mencintai Tuhan dengan cara mencintai ciptaan-Nya.

Cinta terhadap alam dalam Palemahan terwujud nyata dalam praktik keseharian maupun upacara religius, seperti Tumpek Wariga untuk penghormatan tumbuhan dan Tumpek Uye untuk penghormatan hewan. Tradisi ini mengajarkan rasa syukur sekaligus kesadaran bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari tubuh spiritual manusia. Dari menanam pohon, merawat hewan, hingga menjaga kebersihan lingkungan, semua tindakan sederhana ini menjadi wujud bhakti kepada Tuhan.

Dalam konteks kebijakan publik, nilai-nilai Tri Hita Karana sejalan dengan Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama RI. Program Penguatan Ekoteologi mengingatkan bahwa sungai, hutan, dan udara bersih adalah sabda Tuhan yang harus dijaga.

Sementara itu, program Digitalisasi Tata Kelola menunjukkan bahwa pelayanan birokrasi dapat berjalan selaras dengan prinsip ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan kertas dan energi. Dengan demikian, menjaga alam tidak hanya menjadi kewajiban religius, tetapi juga bagian dari tata kelola pemerintahan yang berlandaskan dharma.

Aspek Pawongan menekankan pentingnya harmoni sosial, diwujudkan melalui nilai Tat Twam Asi yang menumbuhkan rasa empati dan toleransi. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak pada kepedulian sosial, gotong royong, hingga menjaga kerukunan lintas agama dan budaya.

Program Asta Protas yang menekankan kerukunan umat beragama dan pemberdayaan pendidikan juga menjadi bukti nyata bahwa membangun manusia yang rukun dan mandiri adalah bagian dari implementasi Pawongan.

Adapun Parahyangan mengajarkan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak berhenti pada ritual, melainkan diwujudkan melalui ketulusan hati dalam menjalankan dharma. Asta Protas melalui Layanan Keagamaan Berdampak dan Sukses Haji menegaskan bahwa negara hadir sebagai pelayan iman, memastikan umat dapat beribadah dengan damai dan bermartabat. Dengan demikian, pelayanan keagamaan tidak sekadar administratif, melainkan persembahan tulus bagi spiritualitas umat.

Akhirnya, Asta Protas dalam bingkai Tri Hita Karana menghadirkan wajah dharma dalam kebijakan publik. Ia menyentuh langit spiritual, hati sesama, dan tanah yang kita pijak. Cinta alam adalah cinta kehidupan, dan cinta kehidupan adalah pengabdian kepada dharma. Dari sinilah harmoni sejati terwujud: ketika kebijakan, tradisi, dan kesadaran personal menyatu dalam spirit Tri Hita Karana.


Opini LAINNYA