Jakarta (BIMAS HINDU) - Isu lingkungan hari ini bukan sekadar topik wacana akademik, melainkan realitas global yang menuntut kesadaran kolektif. Pemanasan global, deforestasi, polusi udara, krisis air, hingga punahnya keanekaragaman hayati, semuanya lahir dari perilaku manusia yang kerap menempatkan dirinya sebagai “tuan” atas alam. Namun, jika kita menengok ke dalam ajaran Hindu, relasi manusia dan alam tidak pernah dimaknai secara eksploitatif. Sebaliknya, Hindu memandang keduanya sebagai satu kesatuan kosmis yang saling terkait, saling menopang, dan harus dijaga dalam keseimbangan.
Dalam Hindu, alam (Prakriti) adalah perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Segala unsur kosmos air, tanah, api, udara, langit, gunung, laut, hutan, dan hewan merupakan bagian dari sakralitas ilahi. Kitab suci Rg Veda menyebut bumi sebagai “ibu” dan langit sebagai “ayah”. Ini menunjukkan bahwa manusia sejatinya hidup dalam pelukan kosmos, bukan di luar atau di atasnya.
Maka, merusak alam berarti menodai manifestasi Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, menjaga kesucian alam adalah bentuk bhakti (pengabdian) yang nyata. Inilah fondasi spiritual yang membuat Hindu memiliki pandangan ekologis jauh sebelum konsep “sustainable living” populer di era modern.
Konsep Tri Hita Karana adalah filosofi hidup Hindu yang menekankan pentingnya menjaga tiga relasi utama adalah Parhyangan, Pawongan, Palemahan. Tanpa keseimbangan ketiganya, hidup akan timpang. Kerusakan alam adalah tanda gagalnya manusia menjaga Palemahan. Ketika hutan dibabat habis, laut dicemari plastik, atau udara dipenuhi polusi, manusia sedang menciptakan disharmoni yang berujung pada penderitaan dirinya sendiri.
Uniknya, ajaran Hindu tidak hanya hadir dalam teks suci, melainkan juga tertanam dalam praktik sehari-hari. Upacara keagamaan, misalnya, menggunakan bunga, janur, air, dan hasil bumi dengan penuh rasa hormat. Semua itu diambil secukupnya, tidak berlebihan, dan selalu dikembalikan ke alam melalui upacara penyucian.
Tradisi Tumpek Wariga (hari penghormatan kepada tumbuhan) dan Tumpek Kandang (hari penghormatan kepada hewan) adalah contoh nyata bagaimana Hindu mengajarkan bahwa tumbuhan dan hewan bukan objek eksploitasi, melainkan saudara yang harus dihormati.
Ritual ini sejatinya adalah pendidikan ekologis cara mendidik manusia agar tidak serakah dan mampu menjaga harmoni dengan alam.
Hindu mengenal konsep Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia). Keduanya bersifat mikrokosmos dan makrokosmos yang saling mencerminkan. Apa yang terjadi di alam semesta akan berdampak pada manusia, begitu pula sebaliknya.
Jika hutan gundul menyebabkan banjir, maka itu bukan hanya bencana ekologis, melainkan juga cermin dari ketidakmampuan manusia menjaga harmoni batinnya. Dengan kata lain, krisis lingkungan adalah refleksi dari krisis moral dan spiritual manusia.
Dalam perspektif saya, tantangan terbesar umat manusia saat ini adalah mengubah cara pandang terhadap alam. Jika Barat selama berabad-abad menekankan paradigma “dominion” (penguasaan atas alam), maka Hindu menawarkan paradigma “guardianship” (penjagaan).
Manusia seharusnya menjadi penjaga kosmos, bukan penakluknya. Kita hidup bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk merawat. Ketika manusia serakah dan memandang alam hanya sebagai “sumber daya”, maka bencana ekologis hanyalah soal waktu. Namun, jika manusia kembali pada kesadaran kosmis Hindu bahwa dirinya hanyalah bagian dari jejaring kehidupan maka harmoni abadi dapat terwujud.
Sekarang, dunia berbicara tentang green energy, zero waste, dan gerakan ramah lingkungan. Namun tanpa fondasi spiritual, semua itu hanya bersifat teknis. Hindu memberi dasar filosofis: bahwa menjaga alam bukan semata demi keberlanjutan ekonomi, melainkan sebuah dharma (kewajiban suci).
Dengan menjadikan ajaran Hindu sebagai inspirasi, manusia bisa menempatkan dirinya sebagai bagian dari kosmos, bukan pengendali tunggal. Kesadaran inilah yang bisa mengubah krisis ekologis menjadi peluang untuk kembali membangun peradaban selaras dengan alam.
Hubungan manusia dan alam dalam perspektif Hindu adalah hubungan kosmis, spiritual, dan ekologis sekaligus. Alam bukan objek, melainkan subjek yang setara. Menjaga hutan, air, tanah, dan udara sama artinya dengan menjaga diri sendiri, karena manusia dan alam tidak terpisahkan.
Jika manusia ingin selamat dari krisis ekologis, maka jalan terbaik adalah kembali pada ajaran Hindu: hidup selaras, penuh hormat, dan berkesadaran. Hanya dengan begitu, harmoni antara Purusha (manusia) dan Prakriti (alam) akan tetap lestari, menyatu dalam keseimbangan abadi.