Jakarta (BIMAS HINDU) - Di tengah sorotan tajam atas isu lingkungan, seperti tingginya deforestasi dan pro-kontra pertambangan nikel di Raja Ampat, muncul sebuah program terobosan yang menarik perhatian: Penguatan Ekoteologi. Ini bukan sekadar program pemerintah biasa, melainkan cerminan dari komitmen strategis Kementerian Agama yang menyatukan nilai spiritual dan aksi nyata pelestarian alam. Langkah ini adalah bagian dari delapan Program Prioritas (Protas) Kementerian Agama, yang merupakan turunan langsung dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ekoteologi adalah konsep yang menjembatani iman dan lingkungan. Program ini mengimplementasikan ajaran agama yang mengamanatkan cinta kasih kepada seluruh ciptaan Tuhan. Di tengah dunia yang menghadapi perubahan iklim, polusi, dan eksploitasi alam, pendekatan ini menjadi sangat relevan. Program ini mengajarkan bahwa menjaga alam bukan hanya kewajiban moral atau tugas pemerintah, melainkan wujud nyata dari ketaqwaan dan ibadah.
Dalam konteks agama Hindu, program ini termanifestasi dalam Gerakan Green Dharma. Gerakan ini berakar kuat pada nilai-nilai Tri Hita Karana, yaitu tiga hubungan harmonis yang membawa kebahagiaan: hubungan dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Dengan mengusung tema "Bhakti untuk Bumi, Cinta untuk Semua Makhluk," Green Dharma mengajak umat untuk mempraktikkan ajaran ini melalui tindakan nyata, seperti penanaman pohon, konservasi air, dan pelepasan satwa.
Keunggulan program ini terletak pada implementasinya yang masif dan terstruktur. Kementerian Agama, melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Pokjaluh AHI (Kelompok Kerja Penyuluh Agama Hindu Indonesia), berhasil menggerakkan ribuan penyuluh agama di seluruh Indonesia. Penyuluh-penyuluh ini berperan ganda: sebagai pembimbing spiritual sekaligus duta lingkungan.
Beberapa contoh nyata keberhasilan program ini adalah:
1. Gerakan Penanaman Pohon Serentak 2024: Ribuan pohon ditanam di berbagai wilayah sebagai bagian dari upacara Panca Walikrama, dengan tema "Taru Raksaning Bhuwana – Pohon Pelindung Bumi."
2. Gerakan Green Dharma 2025: Bertepatan dengan hari raya Tumpek Uye, gerakan ini tidak hanya fokus pada penanaman pohon, tetapi juga pelepasan ikan, burung, dan tukik, serta pemberian pakan satwa di area konservasi.
3. Edukasi Berkelanjutan: Penyuluh agama secara rutin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, dengan mengacu pada ajaran Hindu seperti Tri Hita Karana, Tumpek Wariga, dan filosofi "Tat Tvam Asi" (Engkau adalah Dia).
Dengan memanfaatkan struktur organisasi yang menjangkau hingga ke tingkat desa, program ini memastikan bahwa pesan dan aksi pelestarian lingkungan dapat menyentuh langsung masyarakat di berbagai lapisan. Ini adalah contoh ideal bagaimana kebijakan publik bisa disinergikan dengan kearifan lokal dan nilai-nilai spiritual.
Program Penguatan Ekoteologi membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya tanggung jawab sektor ekonomi atau industri. Ia adalah tugas bersama yang membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk lembaga keagamaan. Dengan mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam agenda kerjanya, Kementerian Agama tidak hanya menjalankan amanat presiden, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals).
Ini adalah langkah maju yang patut diapresiasi, menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam menghadapi tantangan lingkungan global dengan pendekatan yang unik dan holistik. Program ini membuka jalan bagi kolaborasi lebih lanjut antar-agama dan lintas-sektor untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau, adil, dan harmonis bagi semua.
Penulis : I Made Sri Wirdiata, S.Sos.H., S.T., M.I.Kom