Makassar (Bimas Hindu) - Implementasi Asta Protas Kementerian Agama menjadi topik utama dialog interaktif “Mimbar Agama Hindu” yang disiarkan langsung TVRI Sulawesi Selatan, Rabu (16/9/2026). Dialog tersebut membahas penerjemahan nilai-nilai keagamaan ke dalam pelayanan yang menyentuh kebutuhan umat dan masyarakat.
Dialog bertema “Spirit Pelayanan dan Pengabdian Nyata kepada Umat melalui Asta Protas” menghadirkan Pembimas Hindu Provinsi Sulawesi Selatan, I Gst. Ayu Uik Astuti, sebagai narasumber. Acara dipandu I Ketut Artana Muliadi.
I Gst. Ayu Uik Astuti menekankan bahwa Asta Protas perlu diterjemahkan ke dalam kerja pelayanan, bukan berhenti sebagai rutinitas administratif. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan konsep Seva dalam ajaran Hindu.
“Pengabdian tulus kepada kemanusiaan dan alam semesta merupakan bentuk pemujaan tertinggi kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Inilah implementasi nyata dari ajaran Nara Seva adalah Narayana Seva,” ungkap I Gst. Ayu Uik Astuti.
Implementasi tersebut dijelaskan melalui sejumlah bidang pelayanan. Pada sektor lingkungan, Bimas Hindu Sulawesi Selatan mendorong ekoteologi melalui gerakan pura hijau serta pengelolaan sampah organik sarana upakara menjadi pupuk ramah lingkungan.
Pemberdayaan ekonomi umat juga menjadi bagian pembahasan melalui optimalisasi Dana Punia produktif. Sementara di bidang keluarga, Rumah Bina Keluarga Sukhinah (RBKS) diarahkan pada layanan konsultasi pranikah terpadu, termasuk pembinaan bagi remaja Hindu.
Pada sektor pendidikan, penguatan Widyalaya dan pasraman ramah anak menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang memiliki karakter unggul. Berbagai program tersebut ditempatkan dalam kerangka nilai Niskama Karma, Tat Twam Asi, dan Sewaka Dharma.
I Ketut Artana Muliadi menilai siaran “Mimbar Agama Hindu” menjadi salah satu sarana untuk memperluas informasi mengenai arah kebijakan dan program pelayanan Bimas Hindu kepada masyarakat.
“Melalui siaran Mimbar Agama Hindu di TVRI, pesan-pesan strategis dan program Asta Protas dapat langsung tersampaikan ke ruang keluarga umat Hindu di seluruh pelosok daerah. Literasi publik seperti ini sangat penting agar umat memahami dan siap bersinergi mendukung program-program Kemenag yang berdampak,” ujar I Ketut Artana Muliadi.
Selain membahas program, dialog mengangkat konsep Lokasamgraha yang bersumber dari Bhagavad Gita III.20. Konsep tersebut menekankan pentingnya tindakan yang berorientasi pada keharmonisan dan kesejahteraan bersama.
“Sesungguhnya Raja Janaka dan para bijak masa lalu mencapai kesempurnaan melalui kerja pelayanan. Demi memelihara keharmonisan dan kesejahteraan dunia (lokasamgraha), engkau pun berkewajiban untuk bertindak nyata,” pesannya.
Pembahasan Asta Protas dalam dialog tersebut memperlihatkan keterkaitan antara nilai keagamaan dan pelayanan publik. Lingkungan, keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan pendidikan menjadi beberapa bidang yang dibahas sebagai ruang penerapan pelayanan kepada umat.
Melalui “Mimbar Agama Hindu”, informasi mengenai program dan arah pelayanan keumatan disampaikan melalui ruang komunikasi publik yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Kontributor : I Ketut Artana Muliadi