Bedah Filosofi Pupuh Ginada Melalui Radio, Syiar Nilai Kerendahan Hati Jangkau Umat di Empat Kabupaten

Edukasi keagamaan

Klungkung (Bimas Hindu) — Memperluas jangkauan pembinaan mental spiritual berbasis budaya lokal, siaran edukasi keagamaan yang mengulas makna filosofis Pupuh Ginada digelar melalui saluran radio di Kabupaten Klungkung, Bali, Kamis (10/9/2026).

Program syiar keumatan yang diinisiasi oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung ini memancarkan pesan-pesan moral yang dapat diakses oleh masyarakat di empat wilayah kabupaten sekaligus, meliputi Klungkung, Karangasem, Bangli, hingga Gianyar.

Dalam siaran tersebut, pembasahan difokuskan pada tema Eda Ngaden Awak Bisa (Jangan Merasa Diri Paling Mampu) sebagai pijakan etika kebiasaan introspeksi diri dan kerendahan hati bagi umat dalam kehidupan sehari-hari.

Pembimbing Keagamaan Kemenag Kabupaten Klungkung, Susantiari, memaparkan bahwa bait-bait sastra klasik Pupuh Ginada memberikan pengingat mendalam agar manusia tidak terjebak pada kesombongan intelektual.

“Jangan merasa diri sendiri paling bisa atau pintar. Kita tetap perlu rendah hati dan tidak merasa sudah mengetahui semuanya. Seberapa pun pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari dari pengalaman hidup,” ujar Susantiari.

Ia juga menguraikan kiasan geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luu, ilang luu ebuk katah (pekerjaan seperti menyapu sampah) yang menggambarkan bahwa dinamika persoalan hidup akan selalu hadir, sehingga dibutuhkan konsistensi dan kesabaran untuk terus memperbaiki diri.

“Dalam kehidupan, tantangan dan persoalan akan selalu ada. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap konsisten memperbaiki diri dan berbuat baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat,” tambahnya.

Inovasi penyuluhan melalui media penyiaran radio ini menjadi bagian nyata dari komitmen Kementerian Agama dalam menghadirkan Layanan Keagamaan Berdampak sebagaimana diarahkan dalam Asta Protas Kemenag RI agar pembinaan spiritualitas hadir lebih dekat, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan batin masyarakat.

 

Kontributor: I Putu Wisnawa Jaya Antika


Berita Daerah LAINNYA