Belajar dari Arjuna, Sisya Rohin Tulang Bawang Barat Diajak Kendalikan Diri di Tengah Tekanan dan Media Sosial

Sisya Rohin belajar pengendalian diri dari kisah Arjuna

Tulang Bawang Barat, Lampung (Bimas Hindu) Kebimbangan yang dialami Arjuna dalam kisah Mahabharata menjadi pintu masuk bagi belasan siswa Rohani Hindu (Rohin) di Tulang Bawang Barat untuk belajar tentang pengendalian diri. Melalui pembinaan di Pura Dharma Agung, Tiyuh Mulya Asri, Sabtu (12/9/2026), siswa diajak memahami bahwa ajaran Bhagawad Gita tetap relevan ketika mereka menghadapi tekanan belajar, pergaulan, emosi, hingga pengaruh media sosial.

Pembinaan dilakukan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat Eko Sriwulan dengan metode outdoor agar proses belajar lebih interaktif. Materi menghubungkan kisah Mahabharata dengan ajaran Bhagawad Gita, khususnya mengenai bagaimana seseorang mengelola pikiran dan menentukan sikap saat menghadapi persoalan.

Bhagawad Gita merupakan bagian dari Mahabharata yang memuat dialog Sri Krishna dan Arjuna ketika Arjuna mengalami kebimbangan di medan Kurukshetra. Dari percakapan tersebut, siswa dikenalkan pada nilai Dharma, kewajiban, pengetahuan, tindakan, serta pengendalian diri.

Kisah Arjuna kemudian dibawa lebih dekat dengan kehidupan pelajar. Konflik yang dihadapi tidak selalu berupa persoalan besar. Keraguan dalam mengambil keputusan, tekanan belajar, pengaruh teman, sulit mengendalikan emosi, hingga derasnya informasi di media sosial dapat menjadi bentuk “pertempuran” yang dihadapi generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.

“Mahabharata memberikan gambaran konkret tentang dinamika kehidupan manusia, sedangkan Bhagawad Gita memberikan tuntunan bagaimana manusia menghadapi dinamika tersebut dengan Dharma. Dari sosok Arjuna, siswa dapat belajar bahwa kebimbangan adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi seseorang harus mampu mengolah kebimbangan tersebut melalui pengetahuan, pengendalian diri, dan kesadaran terhadap kewajibannya,” ujar Eko Sriwulan.

Pengendalian diri dalam pembinaan tersebut dimulai dari kemampuan menjaga pikiran. Ketika pikiran dapat dikelola dengan baik, siswa diharapkan lebih mampu mempertimbangkan perkataan, tindakan, serta keputusan yang akan diambil.

“Anak-anak perlu memahami bahwa Dharma bukan hanya sesuatu yang dipelajari di dalam buku. Dharma harus terlihat dalam cara berpikir, berbicara, mengambil keputusan, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Inilah relevansi Mahabharata dan Bhagawad Gita bagi kehidupan siswa,” tambah Eko.

Karena itu, siswa tidak diarahkan sekadar menghafal kisah Mahabharata atau sloka Bhagawad Gita. Mereka didorong menggali pesan moral di balik cerita dan menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka hadapi sendiri.

Dari kebimbangan Arjuna, belasan siswa Rohin di Tulang Bawang Barat belajar bahwa ragu dan takut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun melalui pengetahuan, kesadaran Dharma, dan pengendalian diri, kebimbangan dapat diolah menjadi keberanian untuk mengambil keputusan dan menjalankan kewajiban dengan lebih bertanggung jawab.


Berita Daerah LAINNYA