Tilem Bukan Sekadar Datang ke Pura, Umat Hindu Tulang Bawang Barat Diajak Pulang dengan Perubahan Diri

Umat Hindu Tulang Bawang Barat sembahyang Tilem

Tulang Bawang Barat, Lampung (Bimas Hindu)  Persembahyangan Tilem tidak seharusnya berhenti ketika umat meninggalkan pura. Esensinya justru terlihat dari perubahan setelah sembahyang yaitu menjadi lebih sabar, jujur, peduli, mampu mengendalikan diri, dan semakin teguh menjalankan Dharma. Pesan tersebut mengemuka dalam persembahyangan Tilem di Pura Dharma Putra, Tiyuh Murnijaya, Kecamatan Tumijajar, Jumat (11/9/2026).

Puluhan umat mengikuti persembahyangan yang dipimpin Romo Mangku Yohanes bersama Romo Mangku Supianto. Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat Eko Sriwulan turut memberikan penguatan mengenai makna Tilem sebagai momentum untuk melihat kembali perjalanan diri.

Tilem ditempatkan bukan sekadar sebagai hari suci untuk menjalankan ritual, tetapi juga sebagai ruang evaluasi. Kesalahan yang pernah dilakukan tidak berhenti menjadi penyesalan, melainkan dijadikan bahan pembelajaran. Sementara kebaikan yang telah dilakukan didorong untuk terus diperkuat.

Kegelapan malam Tilem juga dimaknai sebagai pengingat bahwa dalam diri manusia masih ada berbagai dorongan yang perlu dikendalikan, seperti kemarahan, keserakahan, iri hati, kebencian, maupun keinginan yang berlebihan. Melalui kesadaran spiritual, umat diajak mengenali sisi tersebut sebelum mampu mengendalikannya.

“Tilem bukan hanya tentang datang ke Pura dan melaksanakan persembahyangan. Lebih dari itu, Tilem adalah kesempatan untuk melihat ke dalam diri. Kita evaluasi apa yang sudah kita lakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki. Setelah sembahyang, hendaknya ada perubahan dalam diri kita menjadi lebih baik,” ungkap Eko Sriwulan.

Penghayatan tersebut juga dikaitkan dengan Dewa Yadnya. Persembahan tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan keagamaan Hindu, tetapi nilai yadnya tidak diukur semata-mata dari besar kecilnya sarana. Ketulusan dan bhakti menjadi dasar yang menentukan makna sebuah persembahan.

“Dalam melaksanakan Dewa Yadnya, yang utama adalah ketulusan dan bhakti. Sarana memang penting sebagai bentuk persembahan, tetapi hati yang tulus adalah dasar dari semuanya,” lanjut Eko.

Dari pesan tersebut, Tilem mendapatkan makna yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Persembahyangan menjadi awal untuk menata kembali pikiran dan sikap, bukan tujuan akhir dari praktik keagamaan.

Ketika umat pulang dari pura dengan kesadaran untuk lebih sabar, mengendalikan kemarahan, menjaga kejujuran, dan memperbaiki hubungan dengan sesama, maka nilai persembahyangan mulai menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata.

Melalui momentum Tilem di Pura Dharma Putra, umat diingatkan bahwa Dewa Yadnya bukan hanya tentang apa yang dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana persembahyangan mampu mengubah orang yang melaksanakannya. Refleksi melahirkan perbaikan, kesadaran menuntun perilaku, dan ketulusan menjadi dasar bhakti.


Berita Daerah LAINNYA