STAHN Jawa Dwipa Hidupkan Kembali Denyut Hindu Jawa lewat Dharma Gita dan Gamelan

STAHN Jawa Dwipa bina Dharma Gita dan gamelan

Blitar, Jawa Timur (Bimas Hindu) Kebangkitan kehidupan Hindu di Jawa tidak hanya berlangsung melalui pembangunan lembaga atau penguatan pendidikan formal. Di tengah umat, proses itu juga tumbuh melalui upaya merawat kembali seni, tradisi, dan ekspresi keagamaan yang berakar pada budaya lokal. Peran tersebut dijalankan STAHN Jawa Dwipa melalui pembinaan Dharma Gita dengan iringan gamelan Jawa kepada umat Hindu di Kabupaten Blitar, Minggu (13/9/2026).

Pembinaan berlangsung di Pura Eka Bhakti Widya Dharma, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi. Sebanyak enam mahasiswa, dua tenaga kependidikan, dan tiga dosen STAHN Jawa Dwipa terlibat bersama 15 umat Hindu setempat dalam mempelajari Kidung Jawa yang dipadukan dengan gamelan.

Pendekatan tersebut memperlihatkan salah satu peran strategis perguruan tinggi Hindu di Jawa: tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membawa kembali pengetahuan yang dipelajari di kampus ke tengah masyarakat. Mahasiswa diberi ruang untuk mempraktikkan keterampilan, mengajarkannya kepada umat, sekaligus ikut menjaga keberlanjutan tradisi Hindu yang berkembang dalam konteks budaya Jawa.

Pembina kegiatan, Bibit Hariyadi, menekankan bahwa Dharma Gita bukan sekadar keterampilan melantunkan kidung. Di dalamnya terdapat nilai Dharma yang perlu dipahami, dihayati, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Dharma Gita bukan hanya tentang melantunkan kidung, tetapi juga diperlukan penghayatan nilai Dharma yang terkandung di dalamnya. Kami berharap kepada adik-adik mahasiswa selain memahami dalam bentuk teori, juga dapat mempraktikkan dan mengajarkan kepada masyarakat, sehingga keberadaan Dharma Gita dapat terus berkembang lintas generasi,” jelas Bibit Hariyadi.

Dharma Gita yang dipadukan dengan gamelan Jawa juga menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan Hindu di Jawa dapat berkembang tanpa kehilangan kedekatannya dengan budaya lokal. Kidung dan gamelan menjadi jembatan antara ajaran agama dan identitas budaya masyarakat tempat umat Hindu hidup.

Dalam konteks itu, kehadiran STAHN Jawa Dwipa menjadi penting. Kampus tidak berhenti sebagai pusat pembelajaran akademik, tetapi turut menjadi penggerak revitalisasi kehidupan Hindu di Jawa melalui pendidikan, seni, budaya, dan pembinaan umat. Pengetahuan yang tumbuh di ruang kuliah diteruskan kepada masyarakat, sementara tradisi yang hidup di tengah umat kembali mendapatkan ruang untuk dipelajari oleh mahasiswa.

Hubungan antara kampus dan umat pun menjadi semakin erat. Pembinaan di Blitar membuka ruang kerja bersama dalam pendidikan keagamaan, seni budaya Hindu, Dharma Gita, dan berbagai bentuk penguatan kehidupan umat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.

Dari Pura Eka Bhakti Widya Dharma, terlihat bahwa upaya membangkitkan kembali denyut Hindu di Jawa dapat dimulai dari hal yang dekat dengan umat yaitu menghidupkan kidung, memainkan gamelan, memperkuat pengetahuan agama, dan memastikan tradisi dapat diteruskan lintas generasi. Dalam proses itu, STAHN Jawa Dwipa hadir sebagai penghubung antara kampus, budaya Jawa, dan kehidupan Dharma di tengah masyarakat.

Kontributor : Toto Margiyono


Berita Daerah LAINNYA