Perubahan Dimulai dari Pikiran, 88 WBP Lapas Narkotika Bangli Diajak Menata Diri

Penyuluh Hindu Bangli bina pikiran dan hati warga binaan

Bangli, Bali (Bimas Hindu) Perubahan perilaku tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Bagi warga binaan, proses itu dapat berawal dari hal paling dekat dalam diri yaitu cara mengelola pikiran. Pesan tersebut menjadi fokus pembinaan kepada 88 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli, Jumat (11/9/2026).

Pembinaan dilakukan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Bangli, I Wayan Sudarma dan Ni Wayan Wiraswastini, melalui materi bertema “Merancang Pikiran dan Hati yang Positif”. Para WBP diajak memahami bahwa pikiran memengaruhi cara seseorang bersikap, mengambil keputusan, hingga menghadapi persoalan dalam kehidupan.

Masa pembinaan juga diarahkan menjadi ruang untuk melihat kembali pengalaman yang telah dilalui. Bukan untuk terus terjebak pada masa lalu, tetapi menjadikannya bahan introspeksi dan pembelajaran agar langkah berikutnya dapat ditempuh dengan kesadaran, pengendalian diri, dan tanggung jawab yang lebih baik.

I Wayan Sudarma menekankan bahwa kemampuan mengelola pikiran menjadi salah satu pintu awal perubahan diri. Pikiran yang lebih jernih membantu seseorang memandang persoalan dari sudut yang berbeda sekaligus membuka ruang untuk menentukan pilihan yang lebih baik.

“Pikiran yang positif akan membantu kita melihat setiap persoalan dengan lebih jernih. Melalui pembinaan ini, kami mengajak warga binaan untuk terus melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan membangun keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar I Wayan Sudarma.

Pemahaman itu diperkuat dengan pentingnya mengendalikan emosi. Ni Wayan Wiraswastini menjelaskan bahwa ketika seseorang mampu menjaga ketenangan hati dan mengelola pikirannya, sikap positif akan lebih mudah tumbuh dan keputusan dapat diambil secara lebih bijaksana.

Dengan pendekatan tersebut, pembinaan keagamaan tidak hanya berisi penyampaian ajaran. Nilai spiritual digunakan sebagai sarana untuk membantu warga binaan mengenali diri, mengelola respons terhadap masalah, serta membangun kembali keyakinan bahwa perubahan tetap mungkin dilakukan.

Pembinaan berlangsung interaktif dengan memberi ruang kepada peserta untuk terlibat aktif. Pendekatan humanis dan berkelanjutan tersebut diarahkan agar perubahan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi perlahan menjadi kebiasaan dan tercermin dalam sikap sehari-hari.

Bagi WBP, kemampuan menata pikiran menjadi bekal penting tidak hanya selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat. Pikiran yang lebih terarah diharapkan membantu mereka membangun keputusan yang lebih bertanggung jawab dan menghadapi kehidupan dengan perspektif yang baru.

Melalui pembinaan tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli menempatkan pikiran sebagai titik awal perubahan. Sebab sebelum sikap dan perilaku berubah, seseorang terlebih dahulu perlu belajar melihat dirinya, persoalannya, dan masa depannya dengan cara yang berbeda.

Kontributor : I Made Sudiana


Berita Daerah LAINNYA