Dari Megambel hingga Janger, Penyuluh Bangli Dorong Rehabilitan Psikososial Terus Berkarya

Rehabilitan psikososial RSJ Manah Shanti Mahottama mengikuti latihan Tari Janger.

Bangli (Bimas Hindu) Seni dan budaya tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga dapat menjadi media pembinaan yang membantu membangun kepercayaan diri, kebersamaan, dan semangat untuk terus berkarya. Pendekatan tersebut diterapkan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli, Ida Bagus Suana Putra, dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada kelompok rehabilitan psikososial di RSJ Manah Shanti Mahottama.

Kegiatan yang diikuti 15 peserta tersebut dikemas melalui praktik megambel dan latihan Tari Janger. Pendekatan seni dan budaya dipilih untuk menghadirkan proses pembinaan yang lebih humanis, komunikatif, serta menyesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Dalam latihan, peserta tidak hanya diajak mengembangkan keterampilan seni, tetapi juga diberikan ruang untuk mengekspresikan kemampuan dan kreativitas. Proses latihan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan kebersamaan, kedisiplinan, dan suasana yang menyenangkan agar peserta dapat mengikuti kegiatan secara aktif dan lebih percaya diri.

Ida Bagus Suana Putra menyampaikan, seni dan budaya dapat menjadi media pembinaan yang memberikan ruang bagi para rehabilitan untuk mengekspresikan diri sekaligus membangun rasa percaya diri.

“Melalui seni dan budaya, kami ingin memberikan ruang kepada para peserta untuk berkarya, membangun kebersamaan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Semoga kegiatan ini dapat memberikan semangat positif dalam menjalani proses rehabilitasi,” ujar Suana

Lebih dari sekadar latihan seni, kegiatan megambel dan Tari Janger juga menjadi sarana membangun interaksi antarpeserta. Mereka belajar bekerja sama, mengikuti arahan, menjaga kekompakan, serta menghargai peran masing-masing.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembinaan karena memberikan pengalaman kepada peserta untuk berinteraksi secara positif dengan lingkungan dan sesama. Melalui kegiatan bersama, peserta juga memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

Menariknya, hasil latihan megambel dan Tari Janger dipersiapkan untuk dipentaskan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Persiapan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para rehabilitan untuk mengambil bagian dalam kegiatan sosial dan budaya.

Keterlibatan dalam persiapan pementasan diharapkan memberikan pengalaman positif bagi peserta bahwa proses rehabilitasi tidak menghilangkan kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi. Sebaliknya, mereka tetap memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dan ditampilkan dalam ruang kebersamaan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa bimbingan dan penyuluhan keagamaan dapat dikembangkan secara kontekstual. Seni dan budaya tidak semata-mata ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembinaan karakter, membangun kebersamaan, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mendorong semangat untuk terus berkarya.

Melalui kegiatan tersebut, para rehabilitan psikososial diharapkan semakin termotivasi menjalani proses rehabilitasi, mampu membangun interaksi positif dengan sesama, serta memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan budaya di lingkungan sekitar.

Kehadiran Penyuluh Agama Hindu dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama menghadirkan layanan bimbingan keagamaan yang inklusif dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Pembinaan diharapkan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan yang kreatif, edukatif, dan memberikan manfaat bagi peserta.

Kontributor : I Made Sudiana


Berita Daerah LAINNYA