Dharma Yatra di Pura Dalem Blanjong, Penyuluh Hindu Refleksikan Kemerdekaan melalui Sejarah dan Ekoteologi

Penyuluh Agama Hindu Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kemenag Bali melaksanakan Dharma Yatra di Pura Dalem Blanjong, Sanur Kauh, Denpasar, bertepatan dengan Hari Suci Tilem.

Denpasar (Bimas Hindu) Bertepatan dengan Hari Suci Tilem, Penyuluh Agama Hindu Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali melaksanakan Dharma Yatra melalui persembahyangan bersama di Pura Blanjong, atau yang lebih dikenal dengan Pura Dalem Blanjong, Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dharma Yatra tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memaknai kemerdekaan melalui penguatan sradha dan bhakti, penghormatan terhadap sejarah dan warisan budaya, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Dalam momentum kemerdekaan, para penyuluh diajak menumbuhkan rasa syukur atas anugerah kemerdekaan sekaligus meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui pengabdian di bidang keagamaan, pembinaan umat, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan Dharma Yatra dikoordinasikan oleh Ketua Tim Penyuluh Bidang Urusan Agama Hindu, I Wayan Winaja. Para penyuluh mengikuti rangkaian kegiatan sebagai bagian dari penguatan sradha dan bhakti sekaligus memperdalam pemahaman mengenai nilai sejarah, budaya, dan lingkungan yang melekat pada keberadaan Pura Dalem Blanjong.

Pura Dalem Blanjong yang berada di Jalan Danau Poso, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat suci bagi umat Hindu, tetapi juga menyimpan nilai sejarah penting dalam perkembangan peradaban Bali. Salah satu peninggalan yang berada di kawasan tersebut adalah Prasasti Blanjong yang berkaitan dengan pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Selain persembahyangan bersama dalam rangka Hari Suci Tilem, Dharma Yatra diisi dengan napak tilas terhadap tonggak sejarah kemenangan dan peninggalan Kerajaan Sri Kesari Warmadewa. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga warisan budaya dan alam.

Dharma Yatra juga menjadi bagian dari aktualisasi ekoteologi, yakni pengamalan nilai-nilai keagamaan yang mendorong terciptanya keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai tersebut sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, khususnya dalam membangun hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan.

Ketua Tim Penyuluh Bidang Urusan Agama Hindu, I Wayan Winaja, menyampaikan bahwa Dharma Yatra tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan persembahyangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan refleksi bagi para penyuluh.

“Melalui Dharma Yatra ini, kita tidak hanya meningkatkan sradha dan bhakti, tetapi juga belajar menghargai sejarah dan budaya serta mengaktualisasikan nilai-nilai ekoteologi melalui kepedulian terhadap kelestarian alam dan lingkungan,” ujar Winaja. 

Menurutnya, aktualisasi ekoteologi melalui kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan simbolis. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kebersihan, kelestarian kawasan suci, lingkungan alam, serta warisan budaya yang berada di sekitarnya.

Semangat kemerdekaan pun dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Menjaga lingkungan, merawat warisan budaya, dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis merupakan bagian dari pengabdian dalam mengisi kemerdekaan.

Dharma Yatra di Pura Dalem Blanjong sekaligus menjadi pengingat bahwa tempat suci tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan lingkungan. Pelestarian pura, peninggalan sejarah, dan alam di sekitarnya merupakan tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Hindu diharapkan semakin mampu menjadi teladan dalam mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan nyata. Pengamalan tersebut diwujudkan dengan membangun kesadaran umat untuk menjaga keharmonisan parhyangan, pawongan, dan palemahan, sekaligus mengisi kemerdekaan melalui karya, pengabdian, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Kontributor : Ida Ayu Ketut Ari Cendani


Berita Daerah LAINNYA