Klungkung (Bimas Hindu) - Kementerian Agama Kabupaten Klungkung memperkuat pembinaan karakter dan keagamaan siswa Pratama Widyalaya Pustaka Dharma Nusantara melalui pendekatan yang ramah anak. Pembinaan yang berlangsung Selasa (22/9/2026) itu mengenalkan nilai budi pekerti, kasih sayang terhadap sesama ciptaan Tuhan, kebersihan, dan kedisiplinan dengan metode yang dekat dengan dunia anak.
Kegiatan berlangsung dalam suasana yang cair. Para siswa mengikuti pembinaan melalui interaksi, percakapan, dan permainan yang disesuaikan dengan usia mereka. Pendekatan tersebut membuat pesan keagamaan tidak hanya diterima melalui penjelasan, tetapi juga dipahami melalui pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kepala Seksi Pendidikan Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, I Gusti Ngurah Ananjaya, mengatakan materi pembinaan disusun dengan mempertimbangkan tumbuh kembang siswa.
“Kami menyampaikan materi pembinaan yang dirancang khusus sesuai dengan tumbuh kembang anak usia dini. Pembinaan kali ini mengusung tema pengenalan nilai-nilai budi pekerti, kasih sayang sesama ciptaan Tuhan, serta kebiasaan hidup bersih dan disiplin,” ujar Ananjaya.
Menurut Ananjaya, masa pendidikan di Pratama Widyalaya merupakan fase penting dalam membangun fondasi karakter. Karena itu, penanaman nilai tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi perlu diwujudkan dalam pengalaman dan kebiasaan yang dapat dipahami anak.
“Anak-anak usia Pratama Widyalaya berada pada masa keemasan. Pendidikan karakter tidak bisa diberikan dengan paksaan, tetapi perlu ditanamkan melalui contoh nyata, cerita yang dekat dengan kehidupan mereka, serta kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten dan menyenangkan,” jelasnya.
Nilai yang diperkenalkan dalam pembinaan tersebut berkaitan erat dengan keseharian siswa. Kebiasaan berkata baik, menghargai orang lain, menjaga kebersihan, disiplin, serta menyayangi sesama menjadi bagian dari pendidikan karakter yang dapat diterapkan baik di sekolah maupun di rumah.
Kepala Pratama Widyalaya Pustaka Dharma Nusantara, Dewa Ayu Nyoman Sri Widiari, menilai pembentukan karakter membutuhkan kesinambungan antara proses pembelajaran di sekolah dan pembiasaan yang dilakukan keluarga.
“Pendidikan karakter pada anak tidak cukup hanya melalui pembelajaran di kelas. Nilai-nilai yang dikenalkan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Karena itu, pendampingan dan sinergi dengan Kementerian Agama menjadi penting bagi kami untuk terus memperkuat pendidikan keagamaan dan karakter anak sejak usia dini,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan kesiapan sekolah untuk terus berkolaborasi dalam mendukung penguatan pendidikan Hindu di Pratama Widyalaya Pustaka Dharma Nusantara.
“Kami sangat antusias untuk berkolaborasi dan siap menjalankan arahan dari Kasi Pendidikan Agama Hindu Kemenag Klungkung demi kemajuan pendidikan Hindu di lembaga ini,” sambungnya.
Pembinaan karakter pada usia dini menjadi proses yang membutuhkan keteladanan dan konsistensi. Nilai yang dikenalkan kepada anak akan lebih mudah melekat ketika hadir dalam kebiasaan sederhana, seperti menjaga lingkungan, mendengarkan orang lain, menghormati teman, dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama.
Pendekatan ramah anak juga memberi ruang kepada siswa untuk belajar tanpa tekanan. Interaksi dan permainan menjadi sarana untuk menghubungkan pesan keagamaan dengan pengalaman mereka, sehingga pembelajaran karakter dapat berlangsung secara lebih natural.
Pembinaan tersebut sekaligus memperkuat hubungan antara satuan pendidikan Hindu dan Kementerian Agama dalam mendukung pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Upaya ini sejalan dengan komitmen penguatan pendidikan yang menempatkan nilai, kepedulian, dan perkembangan anak sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.
Dari ruang belajar yang dipenuhi keceriaan, nilai-nilai sederhana mulai ditanamkan sebagai fondasi karakter. Kebiasaan yang dibangun sejak dini diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk tumbuh sebagai generasi yang memiliki budi pekerti, disiplin, peduli terhadap lingkungan, dan mampu menghargai sesama.
Kontributor : Komang Sugiantari