Karangasem (Bimas Hindu) — Memperkuat penanaman nilai kejujuran (Satya) sekaligus melestarikan permainan rakyat Bali yang mulai langka, edukasi karakter berbasis permainan tradisional I Guak Ngemaling Taluh digelar bagi siswa Pratama Widyalaya (PW) Surya Bhakti Kumara, Kayuaya, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, Kamis (9/9/2026).
Kegiatan pembinaan yang menggabungkan olah fisik, strategi permainan rakyat, dan pendidikan moral ini dipandu langsung oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem, Ida Bagus Maka, bersama Penata Layanan Operasional Kecamatan Kubu, Nengah Sudiarti.
Dalam permainan I Guak Ngemaling Taluh (Burung Gagak Mencuri Telur), seorang anak berperan sebagai induk ayam yang bertugas menjaga telur-telurnya, sementara anak lainnya berperan sebagai burung gagak yang mencoba mengambil telur secara jujur dan terbuka sesuai aturan permainan. Melalui dinamika saling menjaga dan mengambil dengan sportif ini, para siswa diajak menghayati pesan spiritual ajaran Satya—yakni melatih kejujuran, tidak mengambil hak orang lain, serta berkata dan bertindak benar.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Karangasem, Ida Bagus Maka, menjelaskan bahwa aturan dan alur dalam permainan tradisional Bali mengandung nilai-nilai etika mendalam yang sangat efektif diserap oleh anak usia dini.
“Melalui permainan tradisional seperti I Guak Ngemaling Taluh, anak-anak dapat menyerap nilai-nilai kejujuran secara langsung dalam suasana yang gembira. Anak-anak belajar secara alami bahwa kecurangan dalam permainan akan merugikan teman lainnya. Ini adalah metode efektif untuk membentuk karakter jujur sejak dini,” ujar Ida Bagus Maka.
Sementara itu, Penata Layanan Operasional Kemenag Karangasem Wilayah Kubu, Nengah Sudiarti, menekankan bahwa permainan tradisional Bali tidak hanya mengasah ketangkasan fisik anak, tetapi juga menjadi benteng kebudayaan di tengah gempuran permainan digital.
“Kami ingin memastikan bahwa penanaman karakter berbasis budaya lokal dan keagamaan dapat berjalan seimbang. Permainan rakyat seperti ini mengasah interaksi sosial, kejujuran, dan sportifitas, sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi berkarakter sesuai ajaran agama Hindu,” tutur Nengah Sudiarti.
Melalui eksplorasi permainan tradisional sebagai sarana edukasi spiritual ini, Kementerian Agama Kabupaten Karangasem terus berkomitmen menghadirkan model pembelajaran keagamaan yang menyenangkan, aplikatif, dan berakar kuat pada tradisi kebudayaan Nusantara.
Kontributor: Finxi