Belajar Bersama dalam Keberagaman, STAHN Jawa Dwipa Perkuat Kampus Moderasi

Belajar Bersama dalam Keberagaman

Klaten (Bimas Hindu) - Kampus tidak hanya menjadi ruang untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga tempat bertemunya berbagai latar belakang, keyakinan, dan cara pandang. Semangat inilah yang tengah dibangun Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa melalui pengembangan kampus moderasi yang terbuka bagi masyarakat lintas agama, Selasa (8/9/2026).

Keterbukaan tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan program studi umum yang memungkinkan mahasiswa non-Hindu menempuh pendidikan di lingkungan STAHN Jawa Dwipa.

Saat ini, tercatat sedikitnya lima mahasiswa non-Hindu menempuh pendidikan di kampus tersebut. Empat di antaranya beragama Islam dan mengikuti Program Studi Ekonomi Hindu serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), sementara satu mahasiswa beragama Kristen menempuh Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Keberadaan mahasiswa dari berbagai latar belakang agama menjadi gambaran nyata bagaimana ruang pendidikan dapat menjadi tempat tumbuhnya toleransi, dialog, dan kebersamaan.

Ketua STAHN Jawa Dwipa, Ida Bagus Gede Candrawan, menegaskan bahwa kampus yang dipimpinnya terbuka bagi masyarakat untuk belajar sekaligus membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

“STAHN Jawa Dwipa milik bersama. Dengan tersedianya program studi umum, menjadi tempat belajar bagi masyarakat selain Hindu. Ini sebagai bentuk komitmen kami untuk turut menciptakan kampus moderasi dan mendukung Asta Protas Kementerian Agama, khususnya kerukunan dan cinta kemanusiaan,” tegas Prof. Candrawan.

Menurutnya, keberagaman di lingkungan kampus merupakan kesempatan untuk membangun pengalaman hidup bersama dalam suasana saling menghormati. Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk cara mahasiswa memahami perbedaan dan menyikapinya secara dewasa.

Kampus moderasi diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai latar belakang dalam suasana akademik yang terbuka. Interaksi tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk membawa nilai toleransi dan kebersamaan ketika kembali berkontribusi di tengah masyarakat.

Semangat moderasi juga menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi memiliki karakter terbuka, toleran, berwawasan kebangsaan, dan mampu menghargai keberagaman.

Melalui lingkungan pendidikan yang inklusif, STAHN Jawa Dwipa berupaya menghadirkan kampus yang tidak hanya menjadi pusat pembelajaran keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan antarmanusia.

Kehadiran mahasiswa lintas agama menjadi salah satu contoh bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kerukunan. Dari ruang kelas, nilai toleransi dan cinta kemanusiaan dapat tumbuh menjadi praktik kehidupan yang lebih luas.

Kampus moderasi pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang belajar di dalamnya, melainkan bagaimana setiap mahasiswa dapat tumbuh menjadi bagian dari masyarakat yang mampu merawat perbedaan, membangun perdamaian, dan memperkuat harmoni kehidupan bersama.

Kontributor : Toto Margiyono


Berita Daerah LAINNYA