Gerakan Green Dharma tidak selalu hadir di lingkungan Pura. Di Yogyakarta, kepedulian umat Hindu terhadap alam diwujudkan melalui aksi bersih-bersih Candi Ijo, Sambirejo, Sleman, yang juga menjadi tempat umat Hindu melaksanakan persembahyangan.
Semangat tersebut tampak dalam rangkaian Persembahyangan Purwani Tilem yang dilaksanakan 15 ASN Hindu di DIY bersama Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu DIY, jajaran staf, dan Penyuluh Agama Hindu yang tergabung dalam Pokjaluh Hindu DIY, Selasa (11/8/2026).
Persembahyangan yang dipuput Jro Mangku Widiantoro berlangsung khidmat. Namun, kegiatan tidak berhenti pada ritual keagamaan. Setelah persembahyangan, seluruh peserta langsung bergerak membersihkan kawasan Candi Ijo.
Aksi tersebut menjadi bagian dari gerakan Green Dharma, sebuah semangat untuk menerjemahkan kepedulian terhadap alam ke dalam tindakan nyata. Jika di sejumlah daerah gerakan bersih-bersih Green Dharma dilakukan di lingkungan Pura, di Yogyakarta gerakan yang sama diwujudkan dengan merawat kebersihan Candi Ijo sebagai tempat yang juga digunakan umat Hindu untuk bersembahyang.
Pembimas Hindu DIY Didik Widya Putra menegaskan, keberadaan Candi Ijo tidak hanya berkaitan dengan nilai sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki fungsi spiritual bagi umat Hindu. Karena itu, menjaga kebersihan kawasan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
“Candi yang kita jadikan tempat untuk persembahyangan harus kita jaga kesucian dan kebersihannya. Menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari penghormatan kita kepada tempat suci sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap alam,” tegas Didik.
Menurut Didik, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Green Dharma dapat diterapkan sesuai dengan konteks lingkungan tempat umat Hindu berada. Esensinya bukan semata-mata pada lokasi kegiatan, melainkan pada kesadaran untuk merawat alam dan lingkungan sebagai bagian dari pengamalan Dharma.
“Green Dharma harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika kita menjaga kebersihan dan kesucian tempat ibadah, sesungguhnya kita sedang mewujudkan Dharma dalam kehidupan sekaligus menunjukkan penghormatan kepada alam dan warisan leluhur,” tambah Didik.
Aksi bersih-bersih di Candi Ijo sekaligus memperlihatkan bahwa praktik keberagamaan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan. Persembahyangan menjadi ruang membangun kesadaran spiritual, sedangkan menjaga kebersihan menjadi bentuk konkret dari kesadaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga memperkuat pesan bahwa gerakan Green Dharma tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menjaga kebersihan tempat persembahyangan, merawat lingkungan sekitar, dan memastikan ruang yang digunakan bersama tetap lestari merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan semangat tersebut, Bimas Hindu DIY bersama Pokjaluh Hindu DIY terus mendorong agar Green Dharma berkembang menjadi budaya bersama. Gerakannya dapat dimulai dari tempat ibadah, baik Pura maupun ruang persembahyangan umat Hindu lainnya, kemudian meluas ke lingkungan kerja dan ruang kehidupan masyarakat.
Sembahyang untuk menyucikan diri, bersih-bersih untuk merawat lingkungan, dan menjaga alam sebagai bagian dari Dharma.
Kontributor : Heni Purwanti