Klungkung (Bimas Hindu) Menjaga alam tidak berhenti pada pesan keagamaan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Semangat inilah yang dihadirkan Kementerian Agama Kabupaten Klungkung melalui gerakan KELILING (Kemenag Peduli Lingkungan) di kawasan Pura Dalem Agung dan Pura Prajapati Klungkung, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan Rahina Tilem tersebut melibatkan keluarga besar Kemenag Klungkung, Semeton Suka Duka Eka Citta, serta berbagai unsur terkait. Kegiatan dikemas melalui aksi mareresik dan penanaman pohon sebagai bagian dari penguatan nilai Green Dharma dalam kehidupan beragama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Putu Indira Bhadrawati, mengatakan KELILING menjadi salah satu upaya menghadirkan ajaran agama dalam bentuk tindakan yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan.
"Melalui inovasi KELILING ini, kami ingin mengimplementasikan nilai Green Dharma melalui kegiatan mareresik dan penanaman pohon di lingkungan pura. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari semangat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menghadirkan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat," ujar Putu Indira Bhadrawati.
Kegiatan diawali dengan mareresik, membersihkan kawasan pura secara gotong royong. Dalam konteks kehidupan umat Hindu, menjaga kebersihan lingkungan pura tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap kesucian tempat ibadah dan tanggung jawab menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
Setelah persembahyangan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana persembahyangan. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dekat dengan kehidupan umat.
Penanaman bibit tidak sekadar memperindah kawasan pura. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa kesadaran merawat alam perlu ditanam, dipelihara, dan ditumbuhkan secara berkelanjutan di tengah masyarakat.
Bagi Kemenag Klungkung, pendekatan ekoteologi menjadi penting karena nilai agama tidak cukup berhenti sebagai wacana. Melalui Green Dharma, ajaran tentang keharmonisan hubungan manusia dengan alam didorong hadir dalam tindakan konkret, sejalan dengan nilai Tri Hita Karana.
"Menjaga alam adalah bagian dari pengamalan dharma. Apa yang kita tanam dan rawat hari ini bukan hanya untuk dinikmati saat ini, tetapi juga menjadi warisan yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu terus ditumbuhkan sebagai bagian dari kehidupan beragama," sambung Indira.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada kegiatan di Pura Dalem Agung. Kemenag Klungkung berencana terus menggaungkan Green Dharma melalui berbagai kegiatan berbasis ekoteologi, termasuk pada setiap pelaksanaan Rahina Purnama di berbagai pura di Kabupaten Klungkung.
Dengan pendekatan tersebut, pura tidak hanya ditempatkan sebagai pusat pembinaan spiritual, tetapi juga sebagai ruang untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya cinta lingkungan yang berkelanjutan.
Gerakan ini sekaligus sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya agenda Penguatan Ekoteologi dan Layanan Keagamaan Berdampak. Melalui aksi sederhana di lingkungan rumah ibadah, nilai keagamaan diupayakan hadir dalam bentuk manfaat yang dapat dirasakan masyarakat sekaligus lingkungan.
Kontributor : Ni Made Ari Rismaya Dewi