Makassar (Bimas Hindu) – Guru Pendidikan Agama Hindu (PAH) Kota Makassar bersama Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat sinergi dalam menjawab tantangan pendidikan keagamaan di era digital melalui kegiatan simakrama (silaturahmi dan koordinasi) yang dilaksanakan di ruang kerja Pembimas Hindu Sulawesi Selatan, Jumat (24/7/2026).
Pertemuan yang dipimpin Pembimas Hindu Sulawesi Selatan I Gusti Ayu Uik Astuti tersebut menjadi forum diskusi untuk membahas sejumlah isu strategis, mulai dari optimalisasi pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi keagamaan, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, hingga penguatan program Ekoteologi dalam lingkungan pendidikan Hindu.
Dalam arahannya, I Gusti Ayu Uik Astuti menekankan pentingnya kemampuan guru beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi, tetapi juga harus dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dan penyebarluasan nilai-nilai ajaran Hindu yang positif, edukatif, serta mampu menjangkau generasi muda secara lebih luas.
"Transformasi pendidikan menuntut kita terus adaptif dan berinovasi. Penguatan media sosial sangat penting agar ajaran Hindu dapat disampaikan dengan cara yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Guru memiliki peran strategis dalam menghadirkan konten edukatif yang membangun karakter sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat," ujarnya.
Selain literasi digital, forum juga membahas implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan pembelajaran yang menempatkan nilai kasih sayang, empati, toleransi, dan prinsip ahimsa sebagai fondasi dalam proses pendidikan. Para peserta menilai pendidikan agama tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga harus mampu membentuk karakter dan moral peserta didik melalui pendekatan yang humanis.
Pembahasan turut mencakup implementasi Ekoteologi, sebuah konsep yang mengintegrasikan ajaran agama dengan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan. Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan ditandai dengan penyerahan bibit tanaman secara simbolis dari Pembimas Hindu Sulawesi Selatan kepada para Guru Pendidikan Agama Hindu Makassar sebagai langkah awal mendorong budaya peduli lingkungan di sekolah dan pasraman.
Menurut I Gusti Ayu Uik Astuti, implementasi Ekoteologi merupakan bagian dari pengamalan ajaran Hindu yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam sebagaimana nilai Tri Hita Karana. Melalui gerakan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Salah seorang Guru Pendidikan Agama Hindu Makassar, Ni Luh Rencani, menyambut baik arahan yang diberikan dalam kegiatan tersebut. Ia menyatakan kesiapan para guru untuk mengimplementasikan berbagai program yang telah disepakati, baik melalui penguatan pembelajaran berbasis kasih sayang, optimalisasi media sosial sebagai sarana edukasi, maupun pelaksanaan program Ekoteologi di satuan pendidikan masing-masing.
"Kami siap menindaklanjuti arahan yang telah disampaikan. Pendekatan humanis dalam Kurikulum Berbasis Cinta sangat relevan untuk membangun karakter peserta didik. Kami juga akan mengoptimalkan media sosial sebagai media edukasi serta menerapkan program Ekoteologi di sekolah sebagai bagian dari pembelajaran yang berkelanjutan," katanya.
Kesepakatan yang tercapai dalam simakrama ini menjadi pijakan bersama bagi Guru Pendidikan Agama Hindu Kota Makassar untuk mengintegrasikan pemanfaatan teknologi, pendidikan karakter melalui Kurikulum Berbasis Cinta, serta nilai-nilai Ekoteologi dalam proses pembelajaran. Sinergi tersebut sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan pendidikan keagamaan Hindu yang adaptif, relevan, dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik serta masyarakat.