Boyolali, Jawa Tengah (Bimas Hindu) Menjadi remaja Hindu tidak cukup ditunjukkan melalui simbol keagamaan seperti gelang Tridatu atau ungkapan keagamaan. Identitas Dharma juga perlu tercermin dalam cara berpikir, berbicara, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut menjadi fokus pendampingan keagamaan bagi seorang siswa Hindu di SMK Negeri 1 Banyudono, Rabu (9/9/2026).
Di sekolah tersebut saat ini hanya terdapat satu siswa beragama Hindu. Kondisi itu membuat pembelajaran agama berlangsung secara personal melalui dialog langsung antara siswa dengan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali, Rta Wahyu Sri Pamungkas. Alih-alih menjadi keterbatasan, pola satu penyuluh dengan satu siswa justru membuka ruang pembelajaran yang lebih dekat dan reflektif.
Dalam pendampingan, siswa tidak hanya menerima materi keagamaan. Siswa diajak bercermin pada dirinya sendiri: mengenali nilai Hindu yang sudah tampak dalam kehidupannya, melihat kekuatan yang dimiliki, serta mengidentifikasi kebiasaan dan kelemahan yang masih perlu diperbaiki untuk membangun karakter Dharma.
Mario, siswa Hindu SMK Negeri 1 Banyudono, memaknai identitas Hindu sebagai sesuatu yang dapat terlihat melalui simbol keagamaan, kebiasaan bersembahyang, maupun perilaku yang sesuai ajaran.
“Remaja Hindu adalah remaja yang mau menampilkan identitasnya sebagai orang Hindu, baik dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan, gelang Tridatu misalnya, mengucapkan kalimat-kalimat Dharma seperti Astungkara, Svaha dan mengucapkan salam, rajin bersembahyang di pura serta berperilaku sesuai dengan ajaran Hindu,” ujar Mario.
Namun, dialog tidak berhenti pada simbol yang terlihat dari luar. Mario juga diajak melihat bagaimana identitas Dharma diwujudkan melalui sikap hormat kepada orang lain dan penerapan Catur Guru sebagai bagian dari pembentukan karakter remaja Hindu.
Pendampingan kemudian masuk pada pertanyaan yang lebih personal: apa yang sudah menjadi kekuatan dalam diri, apa yang masih menjadi kelemahan, perilaku apa yang sudah mencerminkan Dharma, dan kebiasaan apa yang perlu ditinggalkan? Pertanyaan tersebut digunakan untuk mendorong siswa mengenali dirinya secara lebih jujur, bukan sekadar menghafal materi agama.
Pola dialog satu lawan satu juga memberi kesempatan lebih luas bagi siswa untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Penyuluhan agama dengan demikian menjadi ruang untuk mendengar, berdiskusi, dan membantu siswa menemukan relevansi ajaran Hindu dengan kehidupan sebagai remaja.
Pendekatan tersebut penting di tengah lingkungan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Tantangan generasi muda tidak hanya terletak pada seberapa banyak ajaran agama yang diketahui, tetapi juga bagaimana nilai tersebut tetap menjadi pegangan dalam membentuk jati diri.
Pendampingan terhadap satu siswa di SMK Negeri 1 Banyudono sekaligus menunjukkan bahwa sedikitnya jumlah peserta tidak mengurangi pentingnya pelayanan keagamaan. Pembelajaran tetap dapat berlangsung secara bermakna, bahkan dengan pendekatan yang lebih personal sesuai kebutuhan siswa.
Melalui dialog tersebut, gelang Tridatu dan simbol-simbol keagamaan ditempatkan sebagai bagian dari identitas, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Identitas Dharma pada akhirnya terlihat dari bagaimana ajaran Hindu dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.