Inilah Tiga Langkah Utama Membentengi Sraddha di Era Modern

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru, Hadi Nur Slamet, S.Ag., menyampaikan materi tentang tiga langkah utama membentengi Sraddha di era modern kepada kelompok binaan umat Hindu di Desa Grandeng, Kecamatan Lolong Guba

Buru, Maluku (Bimas Hindu) - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, dan dinamika kehidupan yang semakin kompleks, umat Hindu menghadapi tantangan baru dalam menjaga keteguhan keyakinan (Sraddha). Kondisi ini menjadi perhatian Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru, Hadi Nur Slamet, S.Ag., yang mengajak umat membentengi Sraddha melalui penguatan nilai-nilai Bhakti.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan kepada kelompok binaan umat Hindu di Desa Grandeng, Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru, yang dilaksanakan pada Selasa malam (21/7/2026) di kediaman Bapak Ponimin. Kegiatan rutin tersebut mengangkat tema "Membentengi Sraddha di Era Modern: Melangkah Melalui Jalan Bhakti."

Dalam penyampaiannya, Hadi Nur Slamet mengingatkan bahwa kemajuan zaman memang menghadirkan banyak kemudahan. Namun, di balik itu terdapat tantangan yang tidak kalah besar, seperti krisis keyakinan, kecemasan, ketidakpastian hidup, hingga kecenderungan manusia untuk lebih mengandalkan ego dan logika dibandingkan kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

"Sering kali di tengah riuhnya kehidupan modern, Sraddha kita diuji. Ketika persoalan datang, apakah kita tetap yakin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau justru mulai goyah karena terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri? Karena itu, Sraddha harus terus diperkuat agar tetap menjadi pegangan hidup," ujarnya.

Menurutnya, salah satu cara terbaik untuk menjaga keteguhan Sraddha adalah melalui Bhakti Marga, yakni jalan spiritual yang dilandasi kasih sayang, ketulusan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam konteks kehidupan modern, Bhakti tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

Hadi Nur Slamet kemudian menguraikan tiga langkah utama yang dapat diterapkan umat Hindu untuk membentengi Sraddha di era modern.

Pertama, menundukkan ego melalui penyerahan diri (Prapatti atau Saranagati). Menurutnya, manusia wajib berusaha secara maksimal, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Tuhan. Sikap menyerahkan hasil usaha kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa bukan merupakan bentuk kelemahan, melainkan wujud keimanan yang menghadirkan ketenangan batin di tengah berbagai ketidakpastian hidup.

Kedua, membangun kebiasaan spiritual melalui Sadhana. Ia mengajak umat membiasakan praktik-praktik sederhana namun bermakna, seperti melantunkan Gayatri Mantra setiap pagi, mengucapkan rasa syukur sebelum makan, maupun menyediakan waktu untuk bermeditasi dan mengingat Tuhan di tengah kesibukan. Kebiasaan tersebut menjadi benteng yang menjaga kesadaran spiritual agar tidak terkikis oleh rutinitas duniawi.

Ketiga, menerjemahkan Bhakti ke dalam pelayanan nyata (Sewanam). Hadi Nur Slamet menjelaskan bahwa Bhakti tidak berhenti pada sembahyang di pura atau pelaksanaan upacara keagamaan. Bhakti juga diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama manusia serta menjaga keharmonisan dengan alam sebagaimana diajarkan dalam konsep Tri Hita Karana. Setiap tindakan tulus membantu orang lain tanpa mengharapkan balasan merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Ia menegaskan bahwa perkembangan zaman tidak dapat dihindari, tetapi nilai-nilai spiritual harus tetap menjadi kompas dalam menjalani kehidupan.

"Dunia boleh berubah dan teknologi boleh semakin maju, tetapi kebutuhan manusia akan ketenangan batin tidak pernah berubah. Sraddha adalah jangkar kehidupan kita, sedangkan Bhakti adalah pelindungnya. Jika keduanya terus dipelihara, maka tidak ada badai modernisasi yang mampu meruntuhkan keyakinan kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," pungkasnya.

Melalui penyuluhan tersebut, diharapkan umat Hindu di Desa Grandeng semakin mantap mengamalkan ajaran Bhakti dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu membentengi diri, keluarga, dan generasi muda dari berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai insan yang berlandaskan Dharma.


Berita Daerah LAINNYA