Tanamkan Budi Pekerti Sejak Dini, Penyuluh Hindu Klungkung Bekali Siswa Ajaran Catur Guru

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung memberikan nilai kehidupan kepada 180 peserta didik baru SMA Pariwisata PGRI Dawan.

Klungkung (BIMAS HINDU) — Menjadi generasi penerus bangsa yang unggul tidak cukup hanya bermodalkan deretan prestasi akademik. Sikap, etika, dan cara memperlakukan sesama adalah instrumen fundamental dalam membentuk pribadi yang mampu hidup harmonis di tengah dinamika sosial bermasyarakat.

Nilai-nilai keluhuran inilah yang ditanamkan oleh jajaran Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Klungkung kepada 180 peserta didik baru SMA Pariwisata PGRI Dawan. Edukasi ini disisipkan dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Kamis (16/07/2026).

Mengusung tema pembinaan ‘Budi Pekerti dan Catur Guru’, para Penyuluh Agama Hindu mengajak siswa memahami bahwa pendidikan sejatinya adalah proses menyelaraskan ilmu pengetahuan dengan perilaku yang luhur. Dalam konsepsi Hindu, fondasi tersebut bermuara pada Tri Kaya Parisudha: berpikir yang baik (manacika), berkata yang baik (wacika), dan berbuat yang baik (kayika).

"Menjadi siswa bukan hanya tentang mengejar nilai tinggi, tetapi juga tentang membentuk karakter. Di zaman sekarang, banyak yang cerdas secara akademik, namun minim etika. Dalam agama Hindu, ilmu pengetahuan (Vidya) harus sejalan dengan perilaku yang baik (Susila). Ilmu tanpa etika akan kehilangan arah, sedangkan etika tanpa ilmu akan sulit berkembang."  ujar Komang Diantini, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung

Dalam pemaparannya, siswa juga diajak merenungkan pentingnya menjaga lisan di era digital. Hal ini merujuk pada ajaran suci Bhagavad Gita XVII.15 yang berbunyi: "Anudvegakaram vakyam satyam priya-hitam ca yat, svadhyayabhyasanam caiva vang-mayam tapa ucyate". Sloka ini mengamanatkan bahwa perkataan yang tidak menyakiti, benar, menyenangkan, dan bermanfaat merupakan bentuk tapa (pengendalian diri) dalam berucap. Praktik nyatanya adalah menjauhi perilaku perundungan (bullying), ujaran kebencian di media sosial, dan membiasakan tata krama bahasa.

Melengkapi materi tersebut, Penyuluh Agama Hindu lainnya, Dewa Hardiputra, menguraikan implementasi ajaran Catur Guru sebagai pedoman tata krama komprehensif. Keempat pilar tuntunan tersebut meliputi:

  • Guru Swadyaya (Tuhan): Diwujudkan melalui kedisiplinan spiritual seperti rajin bersembahyang, berdoa sebelum menuntut ilmu, bersyukur, dan menjaga kesucian tempat ibadah. Siswa diimbau menghindari perilaku nir-etika seperti bermain gawai saat persembahyangan.
  • Guru Rupaka (Orang Tua): Direpresentasikan melalui sikap hormat di rumah. Mulai dari berpamitan sebelum ke sekolah, membantu pekerjaan domestik, berkata sopan, hingga jujur terkait kebutuhan pendidikan, bukan dengan memanipulasi atau membentak orang tua.
  • Guru Pengajian (Guru di Sekolah): Sesuai ajaran Acharya Devo Bhava (Taittiriya Upanisad), guru adalah sosok yang patut dihormati karena jasanya mentransfer ilmu. Wujud baktinya adalah mendengarkan instruksi, tidak memotong pembicaraan, dan mengerjakan tugas dengan penuh integritas.
  • Guru Wisesa (Pemerintah/Aturan): Diimplementasikan dalam wujud kepatuhan warga negara dan siswa terhadap hukum. Contoh nyatanya adalah menaati tata tertib sekolah, memakai seragam sesuai ketentuan, dan mematuhi aturan lalu lintas.

Pembekalan holistik ini menuai respons positif dari pihak sekolah. Ketua Panitia Pelaksanaan MPLS SMA Pariwisata PGRI Dawan, Putu Wiwik Pratiwi, mengapresiasi pendekatan penyuluh yang komunikatif dan relevan dengan realitas remaja.

"Siswa kami tidak hanya mendapat materi, tetapi juga bimbingan konseling dari Penyuluh Agama Hindu yang memotivasi mereka untuk menghadapi jenjang pendidikan baru. Kami berharap sinergi pembinaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan," terangnya.

Kegiatan yang bernaung di bawah payung Kampanye Agama Ramah Masyarakat (KARMA) ini diharapkan mampu mencetak siswa yang toleran dan bijaksana. Langkah strategis Kemenag Klungkung ini juga menjadi manifestasi dari Asta Protas (Delapan Program Prioritas) Kemenag, khususnya pada pilar Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi melalui pembangunan karakter utuh sejak dari bangku sekolah.


Berita Daerah LAINNYA