Membawa Suara Guru Pelosok Ke Panggung Seoul: Kisah Dedikasi Dosen Uhn I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Di Korea Tesol 2026

Made Wahyu Mahendra, seorang dosen dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, melangkah ke panggung internasional

Seoul, Korea Selatan (Bimas Hindu) – Di balik gemerlap dan modernnya Kota Seoul, ada sebuah kisah hangat tentang kepedulian terhadap pendidikan di pelosok Indonesia yang berhasil mengetuk hati dunia. Made Wahyu Mahendra, seorang dosen dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, melangkah ke panggung internasional bukan sekadar untuk mengejar reputasi akademik, melainkan untuk membawa suara dan perjuangan nyata para guru di daerah terpencil.

Dalam ajang bergengsi 33rd Korea TESOL International Conference 2026 yang diselenggarakan di Sookmyung Women's University, Seoul, Made Wahyu berhasil meraih hibah penelitian yang sangat kompetitif. Hibah ini tergolong luar biasa istimewa karena hanya dianugerahkan kepada dua individu di seluruh dunia yang dinilai memiliki riset dengan kontribusi paling krusial terhadap masa depan pengajaran Bahasa Inggris.

Namun, bagi Made, penghargaan ini sejatinya adalah milik para guru di ujung negeri. Merekalah sosok-sosok yang setiap hari bergelut dengan keterbatasan demi mencerdaskan anak bangsa.

Konferensi TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) dikenal sebagai salah satu forum ilmiah terbesar dan paling prestisius di kawasan Asia. Di tengah riuhnya diskusi para pakar, peneliti, dan praktisi bahasa dari berbagai belahan dunia, kehadiran riset Made memberikan sentuhan empati yang mendalam. Ia memilih untuk tidak terjebak dalam teori-teori rumit di atas kertas, melainkan turun langsung memotret realitas kehidupan guru-guru bahasa Inggris di daerah pelosok.

Melalui presentasinya, Made menceritakan bagaimana para guru di daerah terpencil harus berjuang menghadapi benteng tantangan yang nyata—mulai dari minimnya akses terhadap pelatihan berkualitas hingga keterbatasan dukungan teknologi pembelajaran. Guna menjawab kegelisahan tersebut, riset Made menawarkan sebuah oase: strategi inovatif yang membumi, berbasis pendekatan kontekstual yang menghargai kearifan lokal, serta pemanfaatan teknologi yang ramah bagi wilayah minim infrastruktur.

“Topik ini sangat relevan dan bukan sekadar pemenuhan angka ilmiah. Ini adalah tentang wajah nyata pendidikan kita, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia, di mana kesenjangan kualitas pendidikan masih menjadi isu utama yang menentukan masa depan anak-anak kita,” ungkap Made dalam sesi presentasinya.

Keikutsertaannya dalam konferensi ini menempatkan Made dalam satu forum ilmiah bersama sejumlah tokoh besar di bidang English as a Second Language (ESL) dari berbagai negara. Pertemuan ini tidak ia jadikan sebagai ajang unjuk panggung personal, melainkan jembatan untuk merajut kolaborasi global. Melalui diskusi hangat di sela-sela acara, ia menyerap berbagai perspektif baru yang harapannya bisa segera diadaptasi untuk membantu mengembangkan kompetensi para guru di tanah air.

Langkah humanis yang ditunjukkan oleh Made Wahyu Mahendra ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi para dosen dan peneliti lainnya di Indonesia. Capaian ini menjadi bukti kuat bahwa ilmu pengetahuan tertinggi adalah ilmu yang mampu menyentuh bumi, peka terhadap realitas sosial, dan memberikan dampak nyata bagi kemanusiaan.

Melalui prestasi ini, UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar memperkuat posisinya di kancah global sebagai institusi yang tidak hanya aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan berdaya saing tinggi, tetapi juga melahirkan akademisi yang memiliki hati dan kepedulian sosial yang melintasi batas negara. Dari Seoul, Made menegaskan kembali komitmennya untuk terus berjalan beriringan bersama para guru pelosok, memastikan nyala api pendidikan tetap terang di seluruh penjuru Indonesia.


Berita Daerah LAINNYA