Mengenal Tradisi Sembahyang 9 Malam Saat Hari Suci Galungan dan Kuningan Umat Hindu Lampung yang Jarang Diketahui Awam

Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Jumadi memberikan dharma wacana pada rangkaian kegiatan Sembahyang Navaratri yang diselenggarakan di Pura Satya Loka Gading Rejo Pringsewu

Pringsewu (Bimas Hindu) – Pernahkah Anda mendengar tentang tradisi sembahyang yang digelar selama sembilan malam berturut-turut tepat di antara Hari Suci Galungan hingga Kuningan? Bagi masyarakat awam, ritual ini mungkin terdengar tidak biasa. Namun bagi umat Hindu di Provinsi Lampung, laku spiritual ini merupakan warisan tradisi suci yang dijaga dengan penuh keteguhan.

Ritual suci ini dikenal dengan nama Sembahyang Nawaratri. Di bumi Sang Bumi Ruwa Jurai, tradisi ini mulai diinisiasi secara masif sekitar tahun 2011 silam, tepatnya di masa kepemimpinan Nengah Maharta sebagai Ketua PHDI Provinsi Lampung. Lebih dari satu dekade berlalu, denyut tradisi ini masih bertahan kuat di beberapa daerah, salah satunya di Pura Satya Loka, Gading Rejo, Pringsewu.

Ada keunikan tersendiri dari cara umat Hindu Lampung merayakan Nawaratri. Jika di tempat asalnya, India, perayaan ini umumnya mengikuti musim gugur sekitar bulan September–Oktober (dikenal sebagai Sharada Navaratri), umat Hindu di Lampung menyelaraskannya dengan kalender rerahinan lokal.

Nawaratri di Lampung rutin diadakan setiap 7 bulan Kalender Masehi, dimulai tepat sejak Hari Suci Galungan hingga ditutup pada Hari Suci Kuningan.

Selama sembilan hari berturut-turut tersebut, umat Hindu berbondong-bondong memadati Pura untuk melaksanakan persembahyangan. Prosesi dimulai setiap pukul 19.00 WIB malam hingga selesai. Uniknya, meski berlangsung hingga malam hari selama lebih dari seminggu, tidak ada umat yang menginap di area pura. Hal ini dilakukan agar krama tetap dapat menyeimbangkan antara kewajiban spiritual dan aktivitas bersama keluarga di rumah.

Setiap malamnya, atmosfer khidmat begitu terasa di dalam Pura. Kesucian malam diisi dengan rangkaian persembahyangan Tri Sandya, Kramaning Sembah, ber-japa, hingga ruang diskusi keagamaan melalui dharma wacana atau dharma tula.

Secara filosofis, tradisi ini berakar kuat pada kisah dalam Kitab Suci Markandeya Purana, khususnya bagian Devi Mahatmya atau Durga Saptashati. Dikisahkan, Dewi Durga terlibat pertempuran sengit selama sembilan malam melawan raja iblis Mahishasura yang dipenuhi sifat angkara murka. Pada hari kesepuluh, kemenangan diraih oleh Dewi Durga, yang melambangkan bahwa kebenaran (dharma) akan selalu menang di atas kejahatan (adharma).

"Secara spiritual, perayaan ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kewajiban untuk mengalahkan sifat-sifat buruk dalam dirinya sehingga dapat mencapai kehidupan yang damai, bijaksana, dan selaras dengan ajaran dharma," ujar Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Jumadi, saat menghadiri langsung kekhusyukan ritual tersebut di Pura Satya Loka.

Melalui pelaksanaan Sembahyang Nawaratri yang terus dijaga secara konsisten dari tahun ke tahun ini, krama Hindu di Lampung berharap semangat pengendalian diri dan kebaikan selalu tertanam dalam sanubari, sekaligus memperkokoh keharmonisan hidup beragama di tengah masyarakat.


Berita Daerah LAINNYA