Menyelami Akar Sejarah di Pura Giri Natha: Perjalanan Tirta Yatra Sebagai Napak Tilas Spiritualitas Umat

Sebanyak 60 umat Hindu dari Pura Tunggal Ika Kemuning, Kabupaten Karanganyar, melakukan Napak Tilas Spiritual melalui perjalanan suci Tirta Yatra

Semarang (BIMAS HINDU) – Jejak sejarah dan spirit spiritual bertemu di Pura Giri Natha, Kota Semarang, pada Sabtu (20/06/2026). Sebanyak 60 umat Hindu dari Pura Tunggal Ika Kemuning, Kabupaten Karanganyar, melakukan Napak Tilas Spiritual melalui perjalanan suci Tirta Yatra, menyambangi salah satu pusat pembinaan umat Hindu yang paling bersejarah di Jawa Tengah tersebut.

Perjalanan ini diikuti oleh lintas generasi, memadukan semangat para sesepuh dengan antusiasme yowana. Bagi umat Pura Tunggal Ika Kemuning, Tirta Yatra bukan sekadar rutinitas berpindah tempat, melainkan sebuah proses penyucian lahir-batin yang menuntut kesadaran penuh (mindfulness) dalam melangkah, sejalan dengan implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha.

Di Pura Giri Natha, rombongan disambut dengan hangat oleh pengurus pura, Putu Adi Sutrisna. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak umat menyelami sejarah panjang di balik berdirinya pura, yang tidak sekadar berdiri dari susunan material, melainkan dari tetesan keringat, gotong royong, dan ketulusan para pendahulu dalam mempertahankan panji Dharma.

"Pura Giri Natha adalah saksi bisu perjuangan dan keteguhan umat. Sejarah mengajarkan kita bahwa semangat belajar, berbhakti, dan menjaga persatuan adalah kunci keberlangsungan Dharma di tengah arus modernitas. Semoga kisah ketulusan para pendahulu ini mampu memantik api inspirasi bagi generasi muda agar terus berkontribusi bagi umat," ujar Putu Adi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Rombongan, Made Sabariyasa, mengungkapkan bahwa kehadiran mereka di Pura Giri Natha bertujuan untuk memperkuat akar spiritualitas. Menurutnya, perjalanan suci ini adalah momentum refleksi diri untuk mengukuhkan konsep Tri Hita Karana—yakni menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta—agar tidak sekadar menjadi konsep, tetapi benar-benar terwujud dalam perilaku sehari-hari.

"Kami datang ke sini untuk menyelaraskan pikiran dan jiwa. Melalui Tirta Yatra ini, kami berharap dapat membawa pulang energi positif agar prinsip Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma—kesejahteraan lahir dan kebahagiaan rohani—benar-benar membumi dalam kehidupan umat setelah kembali ke daerah asal," jelas Made Sabariyasa.

Kegiatan ditutup dengan persembahyangan bersama yang khusyuk. Doa-doa tulus dipanjatkan demi keselamatan bangsa, keharmonisan masyarakat, serta keteguhan iman bagi seluruh umat Hindu di Nusantara. Napak tilas ini pun berakhir dengan semangat baru, membuktikan bahwa sejarah dan spiritualitas akan selalu menjadi kompas yang menuntun umat untuk tetap berjalan di jalan kebenaran.


Berita Daerah LAINNYA