Tulang Bawang (BIMAS HINDU) — Pendidikan sejati tidak hanya berfungsi sebagai kawah candradimuka untuk mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga sebagai ruang untuk mewariskan keluhuran tradisi dan mematangkan kedalaman spiritual. Esensi inilah yang dipegang teguh oleh Pratama Widyalaya Ganesha Kabupaten Tulang Bawang dalam menyambut peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027 Pada Sabtu (18/07/2026).
Pratama Widyalaya Ganesha ini melaksanakan tradisi suci Upanayana atau Pewintenan Saraswati. Bertempat di Gedung Pratama Widyalaya Ganesha, prosesi yang berlangsung khidmat sejak pagi ini menjadi jembatan budaya yang mengenalkan peserta didik pada nilai-nilai luhur ajaran Hindu Nusantara.
Ritual penyucian diri ini diikuti oleh siswa-siswi baru beragama Hindu, dari total keseluruhan 33 peserta didik yang diterima di mana 6 di antaranya merupakan siswa non-Hindu, mencerminkan semangat inklusivitas di lingkungan sekolah. Rangkaian upacara Pewintenan dipimpin langsung oleh Jero Mangku Desa Pakraman Fajar Dewata, Jero Mangku Meres, dengan didampingi oleh empat Jero Mangku lainnya, disaksikan oleh para orang tua serta tamu undangan.
Hadir memberikan pembinaan dalam acara tersebut, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang, Narsono. Ia menegaskan bahwa Pewintenan adalah kekayaan budaya dan tradisi spiritual yang memberikan makna mendalam bagi perjalanan seorang penuntut ilmu.
"Upanayana atau Pewintenan Saraswati ini bukan sekadar ritus seremonial atau pelaksanaan upacara semata. Ini adalah momentum sakral bagi anak-anak kita untuk memulai proses pendidikan dengan kesadaran spiritual yang penuh, kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa hormat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan para gurunya," ucap Narsono dalam sambutannya.
Menurut Narsono, tradisi Pewintenan berfungsi sebagai penyucian diri secara lahir dan batin, sekaligus medium memohon anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati (simbol ilmu pengetahuan). Melalui sentuhan budaya inilah, pendidikan diharapkan tidak kehilangan ruhnya. Karakter dan budi pekerti siswa dibentuk agar mereka tumbuh menjadi generasi cerdas yang tidak tercerabut dari akar budayanya.
Pelaksanaan kegiatan yang berjalan lancar dan penuh kekhusyukan ini turut dihadiri oleh jajaran Penyuluh Agama Hindu, Ketua Yayasan Manggala Fajar Dewata, serta para pengurus adat setempat.
Kehadiran berbagai elemen ini menjadi potret nyata kuatnya sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, yayasan, dan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya bangsa. Melalui pelestarian tradisi Upanayana ini, Pratama Widyalaya Ganesha diharapkan terus mencetak generasi masa depan yang unggul dalam pengetahuan, tangguh dalam karakter, dan teguh dalam mengamalkan nilai-nilai luhur Dharma.