Bangli — Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli terus memperkuat pembinaan karakter generasi muda melalui pendidikan keagamaan berbasis praktik. Upaya tersebut diwujudkan dengan memberikan bimbingan berkelanjutan kepada Kelompok Anak Hindu Pratama Widyalaya Gurukula melalui pelatihan pembuatan sarana upakara, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan yang dipandu oleh I Dewa Ayu Trijuliani, Ida Bagus Putu Suana Putra, Ni Kadek Ary Murdaningsih, Ni Nyoman Sutiari, dan Ni Nyoman Lestiawati itu menjadi bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam membentuk generasi Hindu yang memiliki sraddha, bhakti, berkarakter, sekaligus mencintai budaya dan tradisi leluhur.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mempraktikkan pembuatan jajan suci ipit dan bungan waru, dua sarana upakara yang kerap digunakan dalam pelaksanaan yadnya. Tidak hanya mempelajari teknik pembuatannya, para peserta juga memperoleh penjelasan mengenai makna filosofis, fungsi, serta nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalam setiap sarana upakara sebagai implementasi ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan pembelajaran berbasis praktik dipilih agar anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna. Melalui keterlibatan secara langsung, mereka diharapkan tidak sekadar memahami teori keagamaan, tetapi juga memiliki keterampilan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian dalam menjaga kelestarian tradisi serta budaya Hindu Bali di tengah perkembangan zaman.
Salah seorang Penyuluh Agama Hindu, Ni Nyoman Lestiawati, menegaskan bahwa pembinaan sejak usia dini merupakan investasi penting untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus memperkuat identitas budaya generasi penerus.
"Melalui praktik pembuatan jajan suci ipit dan bungan waru, anak-anak tidak hanya belajar membuat sarana upakara, tetapi juga memahami makna yadnya dan nilai-nilai Dharma yang terkandung di dalamnya. Kami berharap mereka tumbuh menjadi generasi Hindu yang ber-sraddha, berbhakti, berakhlak mulia, serta memiliki komitmen untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Bali," ujarnya.
Suasana pembelajaran berlangsung aktif dan penuh antusias. Para peserta mengikuti setiap tahapan praktik dengan semangat, didampingi langsung oleh para penyuluh sehingga proses belajar berlangsung interaktif sekaligus menyenangkan.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli berharap lahir generasi Hindu yang tidak hanya memahami ajaran agama secara konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan keagamaan, melestarikan kearifan lokal, serta membangun kehidupan umat yang rukun, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai Dharma.
Kontributor : I Made Sudiana