Keerom (Bimas Hindu) – Perayaan Piodalan Pura Giri Natha, Arso 10, Kabupaten Keerom, Papua, menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memperkuat sradha sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Piodalan yang bertepatan dengan rahina Purnama Ketiga tersebut berlangsung khidmat pada Kamis (27/8/2026).
Persembahyangan dihadiri umat Hindu Kabupaten Keerom bersama jajaran Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua. Selain menjadi momentum spiritual, perayaan tersebut juga diisi Dharma Wacana yang mengangkat pentingnya penerapan ekoteologi dalam kehidupan umat Hindu.
Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Papua, I Wayan Wira Adnyana, S.Ag., M.Ag., dalam Dharma Wacananya mengajak umat untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari praktik keberagamaan sehari-hari.
Mengenakan pakaian adat persembahyangan serba putih, I Wayan Wira Adnyana menegaskan bahwa ajaran Hindu menempatkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Menurutnya, nilai tersebut selaras dengan ajaran Tri Hita Karana, khususnya Palemahan, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.
“Pelaksanaan ibadah dan upacara keagamaan tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab kita terhadap lingkungan. Menjaga kelestarian alam adalah bagian integral dari bakti kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa,” ujar I Wayan Wira Adnyana.
Ia mengajak umat Hindu di Pura Giri Natha, Arso 10, untuk mulai menerapkan pengelolaan sampah sisa upakara secara lebih bijak. Sampah organik yang berasal dari sarana upacara, seperti janur, bunga, dan dedaunan, menurutnya dapat dipilah dan diolah kembali sehingga memiliki manfaat bagi lingkungan.
“Mari kita pilah dan olah sampah organik sisa sarana upacara dengan baik, sehingga tidak menimbulkan masalah lingkungan, melainkan dapat kembali memberikan manfaat bagi alam,” katanya.
I Wayan Wira Adnyana menambahkan, penerapan ekoteologi tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana dalam mengelola sisa upakara dapat menjadi bagian dari budaya umat apabila dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, kawasan pura sebagai ruang suci juga perlu dijaga kebersihan dan kelestariannya. Kebersihan lingkungan pura tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan beribadah, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran spiritual umat dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
“Kesucian pura hendaknya berjalan seiring dengan kepedulian terhadap alam. Ketika kita menjaga lingkungan di sekitar pura, sesungguhnya kita sedang belajar menjaga kesucian diri dan menjalankan ajaran Dharma dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.
Ia mendorong agar pengelolaan sisa upakara dapat dikembangkan menjadi kebiasaan bersama di kalangan umat Hindu Kabupaten Keerom. Janur, bunga, dan dedaunan yang tersisa setelah upacara dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos maupun bentuk pengolahan organik lainnya.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan semangat ekoteologi yang menempatkan alam bukan sekadar sebagai tempat berlangsungnya kehidupan, tetapi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan harmonis manusia dengan Sang Pencipta.
Perayaan Piodalan Pura Giri Natha akhirnya tidak hanya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan spiritual umat melalui persembahyangan, tetapi juga menjadi ruang untuk meneguhkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari pengamalan Dharma.
Dari Pura Giri Natha Arso 10, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga kebersihan, mengelola sisa upakara dengan bijak, dan merawat lingkungan sebagai bagian dari kehidupan yang harmonis.