Piodalan Pura Hargo Loka Jadi Ruang Pembinaan Generasi Muda Hindu di Karanganyar

Piodalan bukan sekadar ritual, tetapi juga ruang belajar, membangun kebersamaan, dan menanamkan nilai Dharma kepada generasi muda Hindu

Karanganyar (Bimas Hindu) – Piodalan Pura Hargo Loka ke-5 tidak hanya menjadi momentum persembahyangan bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi ruang pembinaan keagamaan dan penguatan karakter generasi muda. Rangkaian piodalan yang berlangsung di Dusun Gunung Nganten, Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Kamis (27/8/2026), diikuti sekitar 450 umat dari sejumlah wilayah.

Pura Hargo Loka selama ini menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan dan pembinaan spiritual umat Hindu di wilayah tersebut. Momentum piodalan dimanfaatkan umat untuk memperkuat sraddha dan bhakti sekaligus membangun persaudaraan melalui semangat ngayah dan gotong royong.

Persiapan telah dilakukan sejak sehari sebelumnya. Para Jro Mangku bersama umat melaksanakan mendhak tirta di Sendhang Beji, Candi Cetho, dan Pucuk Gunung Nganten sebagai bagian dari rangkaian persiapan upacara. Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan keterlibatan umat dalam menyiapkan berbagai sarana piodalan secara bersama-sama.

Persembahyangan piodalan dihadiri Pembimas Hindu Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah beserta Ibu, Pembimas Hindu Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat beserta Ibu, Ketua PHDI Kabupaten Karanganyar, Pengawas Pendidikan Agama Hindu, Penyuluh Agama Hindu, serta guru dan murid agama Hindu Kabupaten Karanganyar. Umat dari sejumlah pura dan wilayah lain, termasuk Sragen, turut hadir sehingga suasana piodalan berlangsung semakin semarak.

Sebelum persembahyangan utama, rangkaian kegiatan diawali dengan pecaruan di Manggala 2 (Madya Manggala). Acara kemudian dilanjutkan dengan persembahan Tari Gambyong Ayun-Ayun yang dibawakan Tita dan Shellyn, sisya Pasraman Margoloka atau Pura Hargo Loka.

Kehadiran generasi muda dalam rangkaian piodalan menjadi bagian penting dari pembinaan. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta persembahyangan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan seni budaya yang menjadi sarana mengenal dan menghayati nilai keagamaan melalui pengalaman langsung.

Pengempon Pura Hargo Loka, Supardi, mengatakan keterlibatan pelajar sengaja diperluas agar generasi muda memahami praktik kehidupan keagamaan secara langsung.

“Saya sengaja mengundang murid sekolah dari SD, SMP dan SMK agar mereka bisa tahu tata cara persembahyangan di pura sehingga dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Supardi.

Persembahyangan yang dimulai pukul 12.30 WIB dipimpin Mangku Anom Supriyadi, S.Pd., yang juga Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Karanganyar. Seluruh tahapan berlangsung tertib dan khusyuk. Bagi umat, persembahyangan menjadi kesempatan untuk memanjatkan doa sekaligus melakukan introspeksi dan memohon tuntunan, keselamatan, kedamaian, serta kekuatan dalam menjalani kehidupan.

Setelah persembahyangan, kegiatan dilanjutkan dengan Dharma Wacana yang disampaikan Pembimas Hindu, Eko Pujianto. Ia mengangkat tema Satyam, Siwam, Sundaram sebagai tiga pilar spiritualitas Hindu yang mencakup kebenaran, kesucian atau kebaikan, dan keindahan.

Menurut Eko, ketiga nilai tersebut dapat ditemukan dalam berbagai unsur pelaksanaan keagamaan. Kebenaran tercermin melalui mantram yang bersumber dari ajaran Weda, kesucian melalui ketulusan umat dalam melaksanakan persembahyangan, sedangkan keindahan hadir melalui gamelan, tarian, kidung, dan seni yang mengiringi kegiatan keagamaan.

“Satyam dapat kita dengarkan dari mantram-mantram yang dilantunkan oleh pemangku, di mana mantram tersebut merupakan ajaran kebenaran dari kitab suci Weda. Siwam dapat kita lihat dari mantram dan sesaji-sesaji yang kita persembahkan dengan kesucian hati. Dan terakhir, Sundaram ada dalam keindahan gamelan, tarian, serta kidung yang kita lantunkan untuk mengiringi mantram persembahan pemangku. Jadi Hindu itu benar, suci, dan indah,” kata Eko.

Dalam Dharma Wacana tersebut, Eko juga mengajak para pelajar memahami pentingnya menghormati Catur Guru. Pesan itu diperkuat melalui kisah Ekalaya dalam Mahabharata yang menggambarkan ketekunan, semangat belajar, dan penghormatan terhadap guru.

Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan. Kesungguhan, disiplin, kesabaran, dan ketekunan menjadi bagian penting dalam proses membentuk pribadi yang mampu menghadapi tantangan kehidupan.

“Lahir Hindu, hidup Hindu, dan sampai mati pun tetap Hindu,” tegas Eko. Pesan tersebut menjadi pengingat agar identitas keagamaan tidak berhenti sebagai pengakuan, tetapi diwujudkan melalui perilaku dan pengamalan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Piodalan Pura Hargo Loka ke-5 dengan demikian menjadi lebih dari sekadar agenda ritual tahunan. Keterlibatan pengurus pura, tokoh agama, penyuluh, pendidik, pelajar, serta umat dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa ruang keagamaan dapat sekaligus menjadi tempat belajar, membangun persaudaraan, dan menanamkan nilai-nilai Hindu kepada generasi muda.

Melalui momentum tersebut, umat Hindu diharapkan semakin menguatkan sraddha dan bhakti, sementara generasi muda terus diberi ruang untuk mengenal tradisi, memahami tata cara persembahyangan, menghormati guru, serta menghidupkan nilai kebenaran, kesucian, dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Endang Priti Saraswati, S.Pd.H.


Berita Daerah LAINNYA