Lembata (Bimas Hindu) – Sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan umat Hindu. Hal tersebut dilakukan Penyelenggara Hindu dan Buddha Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Pancami T. S. Samosir, S.Fil.H., melalui kegiatan penanaman pohon sekaligus koordinasi dengan lembaga keagamaan Hindu di Pura Giri Nantha, Lewoleba, Kabupaten Lembata.
Kegiatan yang berlangsung Jumat (28/11/2026) tersebut dihadiri Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lembata Putu Sumantara beserta jajaran pengurus, Ketua Banjar Bali Lembata I Wayan Gunarsa beserta pengurus, Pinandita Putu Yogi, serta umat Hindu Kabupaten Lembata.
Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan unsur kelembagaan Hindu untuk membahas berbagai kebutuhan umat sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjalankan agenda keumatan di Kabupaten Lembata.
Ketua PHDI Kabupaten Lembata Putu Sumantara mengapresiasi kegiatan ekoteologi dan dialog yang dilakukan bersama Penyelenggara Hindu. Ia berharap perhatian pemerintah terhadap kehidupan keagamaan Hindu, khususnya bidang pendidikan, dapat terus diperkuat.
Salah satu perhatian yang disampaikan adalah keberlangsungan pendidikan keagamaan Hindu di pasraman. Menurutnya, dalam dua tahun terakhir siswa Hindu di Lembata belum memperoleh pendampingan pembelajaran agama Hindu secara optimal, baik di sekolah umum maupun pasraman.
PHDI berharap Kementerian Agama melalui Penyelenggara Hindu dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di pasraman, baik dalam bentuk dukungan moril maupun materiil.
Di sisi lain, Pancami T. S. Samosir mengajak seluruh pemangku kepentingan kelembagaan Hindu di Lembata untuk bersama-sama menjaga kawasan pura agar tetap hijau, asri, dan memberikan manfaat bagi kegiatan keumatan.
Menurutnya, gerakan menjaga lingkungan merupakan bagian dari penerapan ekoteologi yang dapat dimulai dari lingkungan pura. Penanaman pohon diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara berkelanjutan.
Selain lingkungan, Pancami menekankan pentingnya penguatan basis data umat Hindu di Kabupaten Lembata. Pendataan organisasi keagamaan, umat, maupun siswa Hindu dinilai penting sebagai dasar dalam menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami sebagai unsur pemerintah harus mengetahui kendala yang dihadapi umat Hindu. Dengan data yang lengkap dan mutakhir, kita bisa melihat persoalan secara lebih jelas dan mencarikan jalan keluar sesuai kebutuhan yang ada di lapangan,” ungkap Pancami.
Menurutnya, data yang akurat juga dapat menjadi dasar dalam menghidupkan kembali kegiatan pembelajaran di pasraman. Dengan mengetahui jumlah dan kondisi siswa Hindu, keberadaan lembaga pendidikan keagamaan, serta kebutuhan pendampingan, pemerintah dan lembaga keagamaan dapat menyusun langkah yang lebih tepat sasaran.
Dialog tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, PHDI, banjar, pinandita, dan umat dalam membangun pelayanan keagamaan. Masing-masing unsur memiliki peran dalam mengidentifikasi persoalan sekaligus merumuskan solusi berdasarkan kondisi nyata di masyarakat.
Sinergi juga diharapkan tidak berhenti pada pertemuan sesaat. Komunikasi dan koordinasi yang dilakukan secara rutin dinilai penting agar berbagai kebijakan dan program keumatan dapat disusun berdasarkan data serta kebutuhan aktual umat Hindu di Kabupaten Lembata.
Melalui kegiatan penanaman pohon dan dialog kelembagaan tersebut, Kementerian Agama dan lembaga keagamaan Hindu di Lembata meneguhkan komitmen untuk membangun pelayanan yang lebih responsif. Ekoteologi menjadi pintu masuk untuk menjaga lingkungan, sementara penguatan data dan pasraman menjadi bagian dari upaya memastikan keberlanjutan pendidikan serta kehidupan keagamaan umat Hindu.
Sinergi pemerintah dan lembaga keagamaan pun diharapkan terus berkembang menjadi kolaborasi yang nyata, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan umat.