Prambanan (Bimas Hindu) - Selat dan laut bukan penghalang bagi umat Hindu untuk menyatukan sradha dan bhakti. Pesan itu mengemuka dalam Persembahyangan Purnama Katiga yang berlangsung khidmat di Mandala Utama Candi Prambanan, Kamis Legi (27/8/2026).
Sekitar 300 umat Hindu dari Gianyar, Bali, Lampung, dan Daerah Istimewa Yogyakarta hadir dalam persembahyangan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, antara lain Pembimas Hindu DIY, Paguyuban ASN Hindu DIY Sahitya Dharma, Kelompok Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) DIY, serta umat Hindu dari sejumlah daerah.
Persembahyangan dipuput oleh Ida Shree Mpu Jangga Dharma Astika dari Griya Taman Saraja Lingga, Pupuan, Tegalalang, Gianyar, Bali, didampingi Ida Shree Mpu Galuh Dharma Tresti.
Purnama Katiga menjadi momentum spiritual yang mempertemukan umat Hindu dari latar belakang geografis dan budaya yang beragam dalam satu ruang suci. Kehadiran umat yang datang dari Bali dan Lampung menuju Yogyakarta menunjukkan bahwa jarak, selat, dan laut tidak mampu membatasi semangat umat untuk bersama-sama menjalankan sradha dan bhakti.
Pembimas Hindu DIY Didik Widya Putra mengatakan, persembahyangan Purnama Katiga kali ini memiliki makna istimewa karena mempertemukan umat Hindu dari wilayah yang secara geografis dipisahkan oleh laut.
“Persembahyangan Purnama Katiga kali ini terasa berbeda. Hadirnya umat Hindu dari tiga wilayah yang dibatasi selat dan laut memberikan kekuatan tersendiri. Jarak tidak menjadi penghalang ketika kita memiliki tujuan yang sama, yaitu menyatukan sradha dan bhakti,” ujar Didik.
Menurutnya, perjumpaan umat dari berbagai daerah tidak hanya memperkuat kehidupan spiritual, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan persaudaraan di tengah keberagaman.
“Yang kita bangun bukan hanya kebersamaan dalam persembahyangan, tetapi juga rasa persaudaraan. Dari Bali, Lampung, dan Yogyakarta, kita hadir dalam satu kesadaran bahwa Dharma mengajarkan kita untuk hidup harmonis, saling menghormati, dan menjaga persatuan,” katanya.
Suasana persembahyangan semakin semarak dengan hadirnya persembahan budaya dari umat Hindu Gianyar. Tari Rejang Renteng dan Tari Baris dipentaskan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dengan iringan dari Pesemetonan Toyaning Bali.
Kehadiran seni tradisi tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya. Tari Rejang Renteng dan Tari Baris menjadi bagian dari ekspresi bhakti umat, sekaligus memperlihatkan bagaimana seni, tradisi, dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dalam sebuah perjumpaan keagamaan.
Bagi umat yang hadir, perjalanan menuju Candi Prambanan memiliki makna lebih dari sekadar perpindahan tempat. Umat dari Bali dan Lampung menempuh perjalanan jauh untuk bertemu dengan umat Hindu di Yogyakarta dan menjalankan persembahyangan dalam suasana kebersamaan.
Purnama Katiga di Candi Prambanan pun menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan keberagaman tradisi dalam satu semangat Dharma. Perbedaan daerah asal tidak mengurangi rasa kebersamaan, justru memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dipersatukan oleh tujuan spiritual yang sama.
Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa kehidupan beragama tidak hanya dibangun melalui ritual, tetapi juga melalui hubungan antarmanusia. Persembahyangan menjadi ruang untuk mempererat komunikasi, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjaga keharmonisan.
Candi Prambanan dalam konteks ini tidak hanya menjadi ruang suci bagi pelaksanaan persembahyangan, tetapi juga menjadi titik temu umat Hindu dari berbagai daerah. Di tempat tersebut, tradisi dan budaya dari Bali, Lampung, dan Yogyakarta bertemu dalam suasana spiritual yang penuh kebersamaan.
Purnama Katiga akhirnya menjadi gambaran bahwa bhakti mampu melampaui batas geografis. Umat datang dari tempat berbeda, membawa tradisi dan pengalaman yang beragam, tetapi bertemu dalam satu tujuan: mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus memperkuat persaudaraan sesama umat Hindu.
Selat dan laut mungkin memisahkan daratan, tetapi tidak mampu memisahkan hati yang disatukan oleh sradha, bhakti, dan Dharma.
Kontributor : Heni Purwanti