Piodalan Pura Wira Dharma: Merawat Hindu dalam Bingkai Kearifan Lokal Jawa

Piodalan Pura Wira Dharma menjadi momentum merawat kearifan lokal Jawa

Pasuruan (Bimas Hindu) Menjalankan ajaran agama tidak selalu berarti membawa seluruh bentuk tradisi dari daerah asal. Bagi umat Hindu di Dusun Ngaruh, Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, ajaran Hindu justru tumbuh dan berakar bersama kearifan lokal masyarakat setempat.

Semangat itulah yang tercermin dalam pelaksanaan upacara Piodalan di Pura Wira Dharma, Rabu (12/8/2026). Piodalan tidak hanya menjadi momentum bagi umat untuk memanjatkan rasa syukur dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus merawat tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Pelaksanaan piodalan dihadiri jajaran Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, para tokoh agama, serta pimpinan organisasi keagamaan Hindu dari tingkat provinsi hingga desa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ida Rsi Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Budiono, S.Ag., Romo Dukun Pandita, jajaran PHDI Jawa Timur, PHDI Badung, PHDI Pasuruan, WHDI Pasuruan, serta PHDI Desa Kayukebek.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Jawa Timur, Ir. I Gusti Putu Raka Arthama, M.MT., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan ritual suci tersebut. Menurutnya, piodalan merupakan bentuk nyata rasa syukur sekaligus bhakti umat kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

“Piodalan ini adalah wujud nyata bakti umat. Saya berharap umat Hindu di sini dapat terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur serta tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Gusti Putu Raka.

Hindu Tumbuh Bersama Kearifan Lokal

Lebih dari sekadar menjaga tradisi, kehidupan umat Hindu di Pasuruan menunjukkan bahwa keberagamaan dapat tumbuh selaras dengan lingkungan sosial dan budaya tempat umat berada.

Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Budiono, S.Ag., mengingatkan agar umat Hindu mampu menjalankan dharma agama sekaligus dharma negara dengan tetap menjaga persaudaraan, termasuk menghargai kekayaan tradisi Hindu yang berkembang di berbagai daerah.

“Umat Hindu harus senantiasa menjalankan dharma agama dan dharma negara secara seimbang. Kita semua adalah saudara. Tidak perlu membeda-bedakan antara banten tradisi Jawa maupun banten Bali, karena hakikatnya satu tujuan. Tetap tumbuhkan dan rawat kearifan lokal yang ada di daerah masing-masing,” pesan Budiono.

Pesan tersebut menegaskan bahwa keberagaman bentuk tradisi tidak semestinya dipandang sebagai perbedaan yang memisahkan umat. Tradisi dapat memiliki bentuk yang berbeda sesuai dengan ruang sosial dan budaya tempat umat Hindu berkembang, sementara nilai spiritual yang menjadi tujuannya tetap berada dalam satu kerangka bhakti kepada Tuhan.

Prinsip ini selaras dengan semangat “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Umat Hindu tidak harus tercerabut dari akar budaya setempat ketika menjalankan ajaran agama. Sebaliknya, nilai-nilai Hindu dapat hadir dan berdialog dengan kearifan lokal, sehingga kehidupan keagamaan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara utuh.

Dalam konteks Pasuruan, keberadaan Pura Wira Dharma menjadi salah satu ruang penting bagi umat Hindu untuk menjalankan kehidupan keagamaan sekaligus mempertahankan identitas budaya lokal. Kearifan lokal bukan sekadar pelengkap dalam pelaksanaan ritual, melainkan bagian dari cara umat membangun hubungan harmonis dengan lingkungan sosialnya.

Persaudaraan Melampaui Batas Daerah

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Dharma Wacana yang disampaikan Ida Rsi Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan secara simbolis bantuan buku dari Ketua PHDI Kabupaten Badung, Provinsi Bali, kepada Ketua PHDI Provinsi Jawa Timur, Ketua PHDI Kabupaten Pasuruan, dan Ketua PHDI Desa Kayukebek.

Penyerahan buku tersebut menjadi bagian dari sinergi antardaerah sekaligus dukungan terhadap penguatan literasi keagamaan umat Hindu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperlihatkan eratnya tali persaudaraan umat Hindu antara Bali dan Jawa Timur.

Piodalan Pura Wira Dharma pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana umat melaksanakan sebuah ritual keagamaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana ajaran Hindu dapat tumbuh bersama budaya setempat—menghormati tempat berpijak, merawat tradisi yang hidup, dan tetap menjaga nilai-nilai dharma.

Di tengah keberagaman Hindu Nusantara, pengalaman umat Hindu di Pasuruan menunjukkan bahwa perbedaan bentuk tradisi bukanlah alasan untuk terpecah. Justru dari keberagaman itulah persaudaraan dapat dirawat: berbeda dalam ekspresi budaya, tetapi tetap satu dalam tujuan bhakti dan pengamalan dharma.

Kontributor : Eko Win


Berita Daerah LAINNYA