Bangli (Bimas Hindu) — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangli kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
Melalui inovasi Program Ruang Pulih, tim Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli memberikan Bimbingan Rohani (Binroh) khusus bagi kelompok rentan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Manah Santi Mahottama, Selasa (4/8/2026).
Program Ruang Pulih merupakan inisiatif pembinaan spiritual Kementerian Agama yang didesain untuk memberikan penguatan mental, moral, dan keagamaan sebagai pendamping proses rehabilitasi medis. Tim penyuluh yang diterjunkan dalam kegiatan ini terdiri dari I Wayan Budeyasa, Ni Nyoman Sutiari, Ni Wayan Wiraswastini, I Gusti Ayu Nurcahyani, I Wayan Sudarma, dan Ni Wayan Gantiari.
Dalam bimbingan yang diikuti oleh 17 orang rehabilitan tersebut, para penyuluh mengangkat materi bertajuk "Empat Upaya Menuju Ketenangan Hidup". Para pasien diajak untuk menyelami nilai-nilai luhur Sudha, Sidhi, Sida, dan Sadhu sebagai bekal spiritual menumbuhkan semangat kesembuhan.
Dalam paparannya, Penyuluh Agama Hindu, I Wayan Sudarma, menguraikan keempat nilai tersebut dengan pendekatan yang sangat sederhana dan empatik. Sudha berarti menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sidhi mengajarkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang baik dan keyakinan untuk mencapainya. Sida bermakna keberhasilan yang diraih melalui usaha tekun berlandaskan Dharma, sedangkan Sadhu adalah sikap berbudi luhur, bijaksana, dan senantiasa berbuat baik.
"Pembinaan spiritual adalah kepingan penting dalam proses pemulihan. Melalui penerapan nilai-nilai Sudha, Sidhi, Sida, dan Sadhu, kami berharap para rehabilitan memperoleh ketenangan batin, membangun optimisme, serta memiliki kekuatan spiritual ekstra untuk menjalani proses pemulihan. Program Ruang Pulih ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam memberikan pendampingan rohani yang humanis dan berkelanjutan," terang I Wayan Sudarma.
Pendekatan yang komunikatif dan penuh kehangatan dari para penyuluh membuat para rehabilitan mengikuti kegiatan dengan sangat antusias. Selain mendapatkan asupan nilai spiritual, ruang interaksi ini terbukti efektif dalam memantik kembali rasa percaya diri dan harapan hidup para pasien.
Sinergi antara pelayanan keagamaan dan upaya rehabilitasi kesehatan jiwa ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan emosional para rehabilitan. Dengan begitu, mereka dapat segera pulih, meningkatkan kualitas hidup, dan kembali berfungsi secara sosial di tengah masyarakat dengan penuh kebanggaan.
Kontributor: I Made Sudiana