Dukung Pelestarian Kearifan Lokal, Akademisi STAHN Jawa Dwipa Dorong Guru SD Semarang Perkuat Literasi Bahasa Jawa

Dr. Trimo menekankan pentingnya memaknai pembelajaran Bahasa Jawa secara lebih mendalam, tidak sekadar pemenuhan nilai akademis semata

Semarang (Bimas Hindu) - Dalam upaya menjaga keberlanjutan nilai-nilai kearifan lokal dan memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya, Ketua Jurusan Dharma Acarya Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa Klaten, Dr. Trimo, S.Pd., M.Pd., mendorong para guru Sekolah Dasar (SD) di Kota Semarang untuk memperkuat pembelajaran Bahasa Jawa. Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta peserta didik terhadap bahasa, budaya, dan warisan leluhur sejak dini (22/9/2026).

Pesan tersebut disampaikan oleh Dr. Trimo saat hadir sebagai narasumber dalam Kegiatan Penguatan Kapasitas SDM dalam Pembelajaran Muatan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang pada 21–22 September 2026. Kegiatan yang bertempat di Kampus 2 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini diikuti oleh 130 guru SD dari 16 kecamatan di Kota Semarang.

Kegiatan yang secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Muhammad Ahsan, S.Ag., M.Kom., merupakan bagian dari Program Kerja Bidang Pembinaan SD Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian SD Tahun Anggaran 2026. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Trimo membawakan materi bertajuk “Membaca dan Menulis Bahasa Jawa di Sekolah Dasar: Dari Capaian Pembelajaran hingga Asesmen”.

Dalam paparannya, Dr. Trimo menekankan pentingnya memaknai pembelajaran Bahasa Jawa secara lebih mendalam, tidak sekadar pemenuhan nilai akademis semata. Bahasa dan kearifan lokal harus dimaknai sebagai media untuk membangun literasi serta membentuk mentalitas peserta didik agar bangga terhadap identitas budayanya.

“Guru memiliki peran penting untuk membuat anak-anak bukan hanya bisa berbahasa Jawa, tetapi juga mencintai bahasa dan budayanya. Dari kecintaan itulah tumbuh kemauan untuk menggunakan dan melestarikannya,” ujar Dr. Trimo.

Ia menambahkan bahwa sekolah merupakan ruang strategis dalam menjembatani generasi muda dengan warisan luhur tradisi. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran disarankan memanfaatkan cerita rakyat, tradisi lokal, hingga penggunaan aksara Jawa yang kontekstual dan bermakna, sehingga anak tidak tercerabut dari akar budayanya.

Mengenai aspek keterampilan, Dr. Trimo menegaskan gagasan bahwa “Menulis Bukan Menyalin”. Siswa perlu dibimbing melalui proses kreatif mulai dari menemukan ide, menyusun draf, merevisi, hingga memublikasikan karya. Begitu pula dengan asesmen, yang hendaknya bergeser dari sekadar pertanyaan "berapa nilai siswa?" menjadi "siswa sudah bisa apa?" guna mengukur kemampuan nyata peserta didik.

Melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi keagamaan negeri seperti STAHN Jawa Dwipa, diharapkan sinergi akademisi dan tenaga pendidik dapat terus memperkuat kapasitas guru dalam menghadirkan pembelajaran muatan lokal yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna bagi pembentukan karakter generasi penerus bangsa.

Kontributor: Toto Margiyono


Berita Daerah LAINNYA