Purnama Sasih Ketiga di Pura Manditha, Penyuluh Hindu Ajak Umat Jernihkan Pikiran dan Sucikan Hati

Purnama Sasih Ketiga menjadi momentum untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, menjernihkan pikiran, dan menyucikan hati.

Kupang (Bimas Hindu) - Penyuluh Agama Hindu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), I Gusti Ayu Sukarmiasih mengajak umat Hindu menjadikan Purnama Sasih Ketiga sebagai momentum untuk menjernihkan pikiran, menyucikan hati, dan memperkuat pengamalan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan I Gusti Ayu Sukarmiasih saat mengisi dharma wacana dalam persembahyangan Purnama Sasih Ketiga di Pura Manditha, SPN Kupang, Kamis (27/8/2026). Dharma wacana mengangkat tema “Menjernihkan Pikiran, Menyucikan Hati” dan diikuti Ketua Pengempon Pura Manditha SPN Kupang, I Ketut Murditha, bersama umat Hindu. Persembahyangan dipimpin Jero Mangku I Wayan Darmawa.

Dalam dharma wacananya, Sukarmiasih menjelaskan bahwa Purnama memiliki makna penting sebagai momentum penerangan kehidupan, terutama dalam menerangi pikiran dan hati. Cahaya bulan Purnama menjadi simbol penerangan agar umat mampu melihat ke dalam diri dan melakukan introspeksi.

“Momentum Purnama dapat kita gunakan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan melakukan introspeksi. Sudahkah pikiran kita digunakan untuk hal-hal yang baik? Sudahkah perkataan kita menyenangkan dan tidak menyakiti orang lain? Sudahkah tindakan kita sesuai dengan ajaran Dharma?” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pikiran menjadi awal dari perkataan dan perbuatan. Karena itu, menjernihkan pikiran bukan berarti terbebas dari persoalan, melainkan belajar agar tidak dikuasai oleh masalah. Menurutnya, ketenangan, kebiasaan berpikir sebelum bertindak, sembahyang, meditasi, mendengarkan ajaran Dharma, dan introspeksi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kejernihan pikiran.

Selain menjernihkan pikiran, Sukarmiasih mengajak umat menyucikan hati dengan tidak memelihara kebencian, belajar memaafkan, tidak sombong atas keberhasilan, serta turut berbahagia atas keberhasilan orang lain. Nilai Dharma, menurutnya, dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menyayangi, membantu, menjaga lingkungan, dan melaksanakan kewajiban dengan tulus.

“Ketika pikiran kita jernih, kita dapat melihat persoalan dengan lebih bijaksana. Ketika hati kita bersih, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih damai,” ungkapnya.

Rangkaian persembahyangan diawali dengan Natab Prayascita, dilanjutkan dharma wacana, Puja Trisandya, Kramaning Sembah, serta nunas tirta dan bija.

Menutup dharma wacana, Sukarmiasih mengajak umat menjadikan setiap Purnama sebagai momentum untuk terus memperbaiki diri dan mengamalkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

“Marilah kita bersama-sama menjadikan Purnama sebagai momentum untuk menjernihkan pikiran, menyucikan hati, dan menerangi kehidupan dengan Dharma,” pungkasnya.

Kontributor : Josefina Eldorin Liberty Beribe, S.Ak


Berita Daerah LAINNYA