Pringsewu (Bimas Hindu) — Dalam upaya merawat kesinambungan tradisi keagamaan Nusantara serta mengukuhkan akar spiritual leluhur, jajaran Bimas Hindu mengintensifkan pendampingan pelaksanaan upacara adat keagamaan. Langkah ini diwujudkan melalui perhelatan ritual sakral Murwa Candika yang dipadukan dengan pembinaan pranata Hindu Jawa di Desa Pandansurat, Kecamatan Sukoharjo, Minggu (25/10/2026).
Kegiatan yang terintegrasi dalam gerakan Program 1000 Candi Nusantara ini menghadirkan ratusan krama yang mengenakan busana adat kebesaran Jawa. Perhelatan swadaya ini dirancang untuk membina para pranata keagamaan setempat agar memiliki pemahaman teologis dan tata laksana ritual yang pakem, sekaligus membentengi eksistensi kearifan lokal Hindu Jawa dari kepunahan.
Kepala Bidang Bimas Hindu Lampung, Jumadi, menegaskan bahwa praktik peribadatan yang mengedepankan kesederhanaan sarana ritual merupakan cerminan ketulusan batin yang autentik, bukan indikator ketertinggalan.
“Kesederhanaan sarana dan prasarana bukanlah bentuk kekurangan dalam beragama. Keagungan sebuah ritual terletak pada kemurnian sradha dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, bukan pada kemewahan materi. Umat Hindu etnis Jawa harus memiliki kebanggaan dan rasa percaya diri yang kokoh atas tradisi Murwa Candika yang diwariskan para leluhur sebagai jangkar spiritual kita di tanah Nusantara,” tutur Jumadi di tengah pelaksanaan upacara.
Jumadi mengapresiasi kemandirian umat di Desa Pandansurat yang mampu menyelenggarakan ritual berbasis gotong royong. Penguatan pemahaman terhadap pranata adat dinilai krusial agar regenerasi pemangku ritual di lingkungan masyarakat adat Jawa dapat terus berlanjut secara terstruktur.
Melalui pendampingan ritual adat dan pembinaan pranata lokal secara berkesinambungan, Bimas Hindu berkomitmen menjaga keberagaman ekspresi tradisi keagamaan Hindu di Indonesia agar senantiasa lestari, bermartabat, dan berdaya saing.
Kontributor: Badrul Fathon