Praktikkan Ekoteologi Lintas Iman, Bimas Hindu Gandeng Mahasiswa BINUS Hijaukan Pura Agung Giri Natha

Program penanaman vegetasi peneduh, pembersihan tempat suci, dan literasi ekologis

Semarang (Bimas Hindu) — Dalam upaya membumikan konsep ekoteologi keagamaan sekaligus memperkokoh moderasi beragama di kalangan civitas akademika, jajaran Bimas Hindu menginisiasi aksi pelestarian lingkungan lintas keyakinan. Program penanaman vegetasi peneduh, pembersihan tempat suci, dan literasi ekologis ini diselenggarakan di Pura Agung Giri Natha, Kota Semarang, (Senin, 26/10/2026).

Kegiatan kolaboratif ini melibatkan sinergi antara penyuluh agama Hindu, pengempon pura, serta mahasiswa Universitas Bina Nusantara (BINUS) Semarang yang berlatar belakang keyakinan beragam. Inisiatif lapangan ini diarahkan untuk memperkuat pembentukan karakter generasi muda melalui pengamalan nilai-nilai spiritual universal yang bermuara pada kepedulian terhadap kelestarian alam semesta.

Langkah konkret ini sejalan dengan arah kebijakan prioritas Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya mandat Penguatan Ekoteologi dan gerakan Green Dharma, yang mendorong rumah ibadah hadir sebagai episentrum edukasi ekologis dan ruang interaksi sosial yang inklusif.

Penyuluh Agama Hindu Kota Semarang, Widya Ayu Candra, menegaskan bahwa ekoteologi menjembatani kesalehan spiritual dengan kesalehan sosial-ekologis di tengah keberagaman masyarakat.

“Praktik ekoteologi ini bertujuan menanamkan tanggung jawab merawat lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda. Ekoteologi tidak hanya bersumber dari ajaran Hindu, melainkan mengandung pesan universal yang melintasi batas keyakinan. Mengingat mahasiswa yang terlibat berasal dari latar belakang beragam, pura ini menjadi ruang perjumpaan bersama untuk belajar saling menghargai, bergotong royong, dan mempraktikkan aksi nyata menjaga bumi,” ujar Widya Ayu Candra di sela kegiatan.

Apresiasi terhadap pembelajaran luar ruang ini diutarakan oleh koordinator mahasiswa BINUS Semarang, Indra Siaputra. Ia menilai bahwa keterlibatan langsung di tempat ibadah memberikan perspektif baru mengenai harmoni relasi manusia dengan alam.

“Melalui kegiatan ini, kami memperoleh pengalaman nyata bahwa pembentukan karakter tidak cukup berhenti pada ruang kelas teoritis, melainkan harus dibuktikan lewat tindakan nyata di tengah masyarakat. Pembelajaran ekoteologi ini melatih kepekaan kami terhadap kelestarian alam, kebersihan tempat ibadah, serta memupuk solidaritas kerja sama lintas latar belakang,” ungkap Indra Siaputra.

Melalui kemitraan strategis dengan perguruan tinggi dan komunitas pemuda lintas agama, Bimas Hindu berkomitmen terus mengoptimalkan peran rumah ibadah sebagai sarana diplomasi toleransi, penanaman budi pekerti luhur, dan pusat percontohan kelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan.

 

Kontributor: Widya Ayu Candra, S.Pd.


Berita Daerah LAINNYA