Refleksi Tumpek Krulut: Kemenag Klungkung Jadikan Seni Gamelan sebagai Media Pembangun Keharmonisan

Odalan Gamelan yang digelar oleh Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu

Klungkung (Bimas Hindu) — Dentingan gamelan yang selama ini setia mengiringi berbagai pelaksanaan Yadnya kembali disucikan dan dimaknai keberadaannya. Hal ini diwujudkan melalui Upacara Odalan Gamelan yang digelar oleh Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Krulut, Sabtu (1/8/2026).

Upacara sakral ini dilaksanakan sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Iswara, yang dipuja secara khusus pada Hari Suci Tumpek Krulut. Lebih dari itu, prosesi ini menjadi ungkapan rasa syukur dan penghormatan umat terhadap gamelan atau gong, sebagai sarana suci yang memiliki peran amat krusial dalam pelaksanaan Yadnya dan pelestarian seni budaya Hindu di Bali.

Kegiatan persembahyangan ini dihadiri langsung oleh Kepala Seksi Urusan Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, I Wayan Winda, bersama jajaran Penyuluh Agama Hindu yang mengikuti seluruh rangkaian prosesi dengan penuh khidmat.

Dalam keterangannya, I Wayan Winda menyampaikan bahwa Tumpek Krulut tidak sekadar dimaknai sebagai momentum untuk memuliakan seni dan suara, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya merawat harmoni di alam semesta.

"Momentum Tumpek Krulut menjadi pengingat bahwa seni dan budaya yang dilandasi nilai-nilai Dharma merupakan media yang sangat efektif untuk menumbuhkan keharmonisan, kedamaian, serta memperkuat Sradha dan Bhakti umat," ujar I Wayan Winda.

Menurutnya, keberadaan gamelan dalam tradisi Hindu Bali tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap atau hiburan upacara semata. Gamelan adalah bagian integral dari warisan budaya yang sarat akan nilai spiritual. Suara gamelan yang mengiringi pelaksanaan Yadnya dipercaya mampu membangun suasana sakral sekaligus mempertebal kekhusyukan umat saat bersembahyang.

"Melalui pelaksanaan Upacara Odalan Gong ini, diharapkan keberadaan gamelan senantiasa membawa vibrasi kebaikan, mempererat persaudaraan, serta menjadi sarana untuk menyebarluaskan ajaran Hindu yang menyejukkan di tengah denyut kehidupan masyarakat," sambungnya.

Selain sebagai upaya menjaga pakem tradisi, upacara ini menegaskan bahwa seni dan kearifan lokal dapat menjadi instrumen penanaman nilai agama.

Langkah pelestarian seni sakral yang diinisiasi oleh Pokjaluh Klungkung ini juga sangat sejalan dengan visi Asta Protas Kemenag RI yang digagas oleh Menteri Agama RI khususnya dalam mewujudkan "Layanan Keagamaan Berdampak". Melalui pelestarian kearifan lokal, Kementerian Agama hadir membina umat dengan pendekatan kultural yang membumi, damai, dan penuh harmoni.


Berita Daerah LAINNYA