Sakralnya Pembauran Tradisi: Umat Hindu Laksanakan Ritual Tri Sandya dan Pemujaan Dewi Sri

Ritual persembahyangan khusus Malam Jumat Legi

Karanganyar (Bimas Hindu) — Suasana khusyuk dan pendar kedamaian menyelimuti area suci Pura Tunggal Ika, Kabupaten Karanganyar, pada Kamis malam (6/8/2026). Puluhan umat Hindu berkumpul untuk melangsungkan ritual persembahyangan khusus Malam Jumat Legi, sebuah tradisi spiritual sakral yang harmonis memadukan nilai keagamaan Hindu dengan kearifan lokal budaya Jawa.

Ritual persembahyangan ini difokuskan pada pemujaan kepada Dewi Sri manifestasi suci yang disimbolkan sebagai ibu kesuburan, kelimpahan rezeki, dan dewi pelindung kemakmuran umat manusia.

Sejak petang, pelataran Pura Tunggal Ika telah dipenuhi oleh deretan sesaji (banten) dan wewangian dupa yang menyerbak memenuhi ruang sakral. Ritual persembahan ini tidak sembarangan; sesaji yang disajikan sarat akan makna filosofis, mencakup hasil bumi, beras, aneka bunga rupa warna, dan dedaunan. Seluruhnya dihaturkan sebagai wujud bhakti dan persembahan tulus atas karunia alam yang berlimpah.

Prosesi ritual diawali dengan tahapan penyucian diri dan sarana persembahyangan. Setelahnya, umat menyatukan batin dalam persembahyangan Tri Sandya yang dipimpin langsung oleh Pemangku Pura, Mangku Sutarno, didampingi oleh Mangku Priyanto dan Mangku Loso. Seluruh umat tampak larut dalam keheningan yang magis, memanjatkan doa harmoni agar semesta senantiasa melimpahkan kelancaran rezeki, kesehatan, serta ketenteraman.

Terkait pelaksanaan ritual ini, Ketua Pengurus Pura Tunggal Ika, I Made Sabaryasa, menjelaskan bahwa pemilihan waktu pelaksanaan memiliki makna kosmologis tersendiri.

"Malam Jumat Legi dalam pandangan kosmologi Jawa memiliki getaran spiritual yang sangat kuat. Ketika momentum ini dipadukan dengan ritual pemujaan Dewi Sri, ia menjadi waktu keemasan bagi kita untuk eling (ingat) dan bersyukur atas segala karunia pangan serta keharmonisan hidup yang telah diturunkan oleh Sang Hyang Widhi Wasa," jelasnya di sela-sela prosesi.

Ritual yang berlangsung hingga larut malam ini mencapai puncaknya pada pembagian air suci (tirta) dan bija ke kening umat sebagai simbol pencerahan. Setelah prosesi spiritual usai, umat bersama-sama melakukan tradisi nglungsur yakni memohon kembali sesaji yang telah diberkati untuk dinikmati bersama.

Tradisi makan bersama dari hasil bumi yang telah disucikan ini tidak hanya menyempurnakan kualitas sradha dan bhakti secara vertikal, tetapi juga menjadi simpul pengikat persaudaraan antarumat penyungsung pura secara horizontal.

Menutup rangkaian persembahyangan malam itu, Jero Mangku Priyanto menyampaikan pesan moral yang mendalam terkait esensi dari ritual pemujaan Dewi Sri.

"Pemujaan Dewi Sri setiap Malam Jumat Legi adalah ruang ritual bagi kita untuk menyadarkan diri bahwa setiap bulir rezeki yang kita nikmati adalah wujud cinta kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami berharap seluruh umat senantiasa ngerastiti (berdoa) bersama di tempat suci ini, agar ritme alam tetap terjaga dan berkah kesuburan selalu melingkupi kita semua," tutup Jero Mangku Priyanto.

Melalui konsistensi penyelenggaraan ritual ini, umat Hindu Pura Tunggal Ika berharap nilai-nilai luhur penghormatan terhadap alam semesta dan kelestarian tradisi dapat terus membumi di tengah arus modernisasi.


Berita Daerah LAINNYA