Singaraja (Bimas Hindu) — Dalam upaya menerjemahkan nilai-nilai luhur Tri Hita Karana ke dalam aksi pelestarian lingkungan yang nyata (Green Dharma), civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu menginisiasi program penguatan ekoteologi berbasis masyarakat. Langkah strategis ini diwujudkan melalui gerakan restorasi hijau berupa penanaman bibit pohon di sepanjang kawasan Desa Adat Banjar Tegeha, Jumat (9/10/2026).
Program penghijauan ini merupakan wujud transformasi peran institusi pendidikan tinggi agama, yang tidak lagi sekadar menjadi pusat kajian akademik, tetapi juga bertindak sebagai agen perubahan sosial dan ekologis di tengah masyarakat. Melalui sinergi antara mahasiswa, aparatur desa, dan warga setempat, inisiatif ini dirancang untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keharmonisan alam semesta (Palemahan).
Pihak akademisi dan pembimbing program menegaskan bahwa pemahaman terkait ekoteologi harus melampaui batas-batas teori di ruang kelas dan terejawantahkan dalam tindakan yang berdampak langsung pada keseimbangan ekosistem.
“Nilai-nilai keagamaan terkait pelestarian alam harus hadir sebagai solusi atas tantangan ekologis masa kini. Penanaman pohon ini merupakan bentuk komitmen spiritual dan wujud bakti sosial akademisi Hindu untuk memastikan bumi tetap menjadi ruang hidup yang asri dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” jelas perwakilan akademisi selaku pembimbing program.
Langkah mitigasi lingkungan yang melibatkan masyarakat akar rumput ini mendapat apresiasi penuh dari otoritas desa setempat. Gerakan penanaman ini diharapkan tidak berhenti sebagai aksi seremonial, melainkan menjadi stimulus jangka panjang di mana masyarakat secara mandiri merawat dan memastikan setiap pohon yang ditanam dapat memberikan manfaat ekologis dan keindahan yang optimal bagi kawasan desa adat.
Melalui langkah konkret ini, institusi pendidikan keagamaan Hindu membuktikan kontribusinya dalam mendukung agenda pelestarian lingkungan secara nasional. Implementasi ekoteologi ini diharapkan dapat menjadi model pembinaan umat yang terintegrasi, di mana kesadaran spiritual berjalan selaras dengan tanggung jawab untuk merawat dan memuliakan Ibu Pertiwi.
Kontirbutor: Dayu Komang Wahyu Pradnyan