Wujudkan Green Dharma, Penyuluh Agama Hindu Klungkung Gencarkan Ekoteologi di Kawasan Pura

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung bersama aparatur desa adat melaksanakan gerakan penghijauan strategis di kawasan Pura Dalem Pemuteran

Klungkung (Bimas Hindu) — Menjelang perayaan Hari Suci Tilem, upaya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual umat Hindu terus digencarkan. Mengusung semangat Green Dharma atau ekoteologi, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung bersama aparatur desa adat melaksanakan gerakan penghijauan strategis di kawasan Pura Dalem Pemuteran, Desa Tangkas, Kamis (8/10/2026).

Gerakan pelestarian lingkungan tempat suci ini melibatkan Bendesa Adat Tangkas, I Nyoman Sudarma, beserta jajaran prajuru pura setempat. Langkah konkret ini diwujudkan melalui penanaman ragam flora upakara, seperti jempiring dan angsoka, yang difungsikan ganda sebagai peneduh ekosistem pura sekaligus penyedia sarana persembahyangan umat.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung, Ita Yuliani, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan medium untuk mengimplementasikan ajaran agama melalui kepedulian nyata terhadap alam semesta.

"Gerakan Green Dharma ini kami dorong agar nilai-nilai ajaran tidak berhenti pada tataran filosofis saja, melainkan berwujud tindakan nyata. Dalam perspektif ekoteologi Hindu, manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga merawat lingkungan pada hakikatnya adalah bentuk tanggung jawab spiritual kita sebagai umat," jelas Ita Yuliani.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa momentum menjelang Hari Suci Tilem sangat tepat digunakan untuk introspeksi. Kesadaran untuk menyucikan diri ke hadapan Sang Pencipta harus diiringi dengan kesiapan menjaga harmoni dengan lingkungan fisik tempat ibadah.

Bendesa Adat Tangkas, I Nyoman Sudarma, menyambut positif kolaborasi ekologis di kawasan tempat suci tersebut. Ia menilai gerakan ini akan memantik kesadaran kolektif umat Hindu setempat.

"Menjelang Tilem, kegiatan penghijauan ini mengingatkan kita untuk tidak hanya mempersiapkan diri secara niskala, tetapi juga menjaga keasrian lingkungan fisik pura. Tanaman sarana upakara yang ditanam ini tentu akan kita rawat bersama agar tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang. Menjaga tempat suci adalah tanggung jawab bersama," tegas I Nyoman Sudarma.

Melalui penguatan implementasi Green Dharma secara berkesinambungan di tingkat akar rumput, Ditjen Bimas Hindu berharap kesadaran ekologis dapat menjadi budaya melekat bagi umat Hindu. Kawasan pura tidak hanya difungsikan sebagai pusat ritual keagamaan, tetapi juga bertransformasi menjadi pilar pelestarian lingkungan dan penjaga keharmonisan semesta.


Berita Daerah LAINNYA