Denpasar (Bimas Hindu) — Dalam upaya memantapkan pemahaman moderasi beragama serta membumikan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, Kantor Wilayah Bimas Hindu Provinsi Bali menyelenggarakan Dialog Kerukunan Intern Umat Hindu se-Provinsi Bali di Denpasar, yang berlangsung selama tiga hari pada 5/10/2026 hingga 7/10/2026.
Kegiatan strategis bertema "Melalui Dialog Kerukunan Intern Umat Hindu, Kita Perkuat Moderasi Beragama dan Cinta Kemanusiaan demi Keharmonisan Umat" ini diikuti oleh 45 perwakilan tokoh agama, akademisi, dan pimpinan lembaga keagamaan dari sembilan kabupaten/kota se-Bali.
Dalam laporan pelaksanaannya, Ketua Panitia menegaskan bahwa dialog kerukunan ini dirancang sebagai langkah nyata untuk menumbuhkan cara pandang dan sikap beragama yang inklusif di tengah masyarakat modern.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pembinaan umat yang berkelanjutan. Dialog ini diarahkan untuk menumbuhkan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang moderat tanpa sedikit pun menghilangkan identitas spiritual umat Hindu," tegas Ketua Panitia.
Penyelenggaraan dialog yang menghadirkan enam narasumber dari unsur akademisi, praktisi, tokoh agama, dan birokrasi ini menekankan pentingnya aktualisasi filosofi Tat Twam Asi (aku adalah engkau) dalam merespons berbagai dinamika sosial.
"Nilai Tat Twam Asi tidak boleh berhenti sebagai wacana teologis semata, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Umat Hindu didorong untuk mampu melihat persoalan sosial dengan semangat kemanusiaan, mengedepankan dialog dalam menghadapi perbedaan, serta membangun kebersamaan di tengah keberagaman," ungkap perwakilan narasumber dialog.
Perwakilan pimpinan Bimas Hindu Bali menekankan bahwa penguatan kerukunan intern merupakan modal sosial terpenting untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang dirasakan langsung manfaatnya oleh publik.
"Kerukunan tidak boleh berhenti sebagai konsep di atas kertas, tetapi harus diterjemahkan menjadi aksi nyata dan pelayanan keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Jejaring komunikasi dari sembilan kabupaten/kota ini menjadi kunci agar setiap potensi persoalan keagamaan dapat diselesaikan secara cepat dan dialogis," ujar pimpinan Bimas Hindu Bali.
Melalui konsolidasi dan pembudayaan ajaran Tat Twam Asi ini, Ditjen Bimas Hindu berkomitmen untuk terus mendorong umat Hindu di Bali menjadi penggerak kehidupan sosial yang damai, toleran, humanis, dan berorientasi pada kepedulian kemanusiaan.
Kontributor: Ida Ayu Ketut Ari Cendani, S.Sos