Ketika Dharma Menjadi Tradisi, Dharma Telah Hidup Sebelum Nama Hindu

Dharma hidup dalam tradisi, rasa syukur, dan harmoni dengan alam

(Mimbar Hindu) - Suatu pagi saya bertemu dengan seorang bapak tua di sebuah desa di Jawa. Sebelum mulai bekerja di sawah, beliau berhenti sejenak, memejamkan mata, lalu mengucapkan doa dengan lirih. Setelah itu beliau memercikkan sedikit air ke tanah, kemudian mulai mencangkul. Saya bertanya, "Pak, mengapa selalu berdoa sebelum bekerja?" Beliau tersenyum dan menjawab sederhana, "Niki namung ngaturaken panuwun. Sing maringi urip Gusti, sing maringi banyu Gusti, sing maringi lemah subur ugi Gusti." "Ini hanya mengucapkan terima kasih. Yang memberi kehidupan adalah Tuhan, yang memberi air adalah Tuhan, dan yang memberi tanah subur juga Tuhan." Jawaban itu begitu sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Saya menyadari bahwa rasa syukur tidak selalu diajarkan melalui buku. Ia hidup melalui kebiasaan, teladan, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Saudara pendengar, pernahkah kita bertanya mengapa masyarakat Jawa mengenal tradisi slametan, wiwitan, sedekah bumi, atau bersih desa? Mengapa sebelum panen, membangun rumah, atau memulai pekerjaan penting, masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama? Sebagian orang mungkin menganggap semua itu hanya adat. Padahal, di balik tradisi tersebut tersimpan nilai-nilai spiritual yang sangat luhur. Inilah yang menjadi tema kita hari ini. "Ketika Dharma Menjadi Tradisi: Dharma Telah Hidup Sebelum Nama Hindu."

Yang dimaksud bukanlah bahwa masyarakat Nusantara telah memeluk agama Hindu sebelum mengenal nama Hindu. Maksudnya adalah nilai-nilai Dharma telah tumbuh dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, jauh sebelum istilah Agama Hindu digunakan sebagai nama resmi dalam administrasi negara Indonesia. Melalui perjalanan sejarah yang panjang, sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara, nilai-nilai Dharma berakulturasi dengan budaya setempat. Nilai yang selaras dengan kebenaran dipelihara, diwariskan, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itulah banyak tradisi Jawa memiliki kedekatan dengan ajaran Dharma, meskipun tidak semua budaya Jawa berasal dari Hindu.

Saudara pendengar, dalam Agama Hindu terdapat tiga kerangka dasar, yaitu Tatwa, Susila, dan Upacara. Yang pertama adalah Tatwa, yaitu pemahaman tentang hakikat kehidupan. Orang Jawa mengenal ungkapan Sangkan Paraning Dumadi, mengingatkan manusia agar selalu sadar dari mana berasal dan kepada siapa akhirnya akan kembali. Kesadaran inilah yang membuat manusia tidak sombong. Kita memahami bahwa hidup adalah anugerah, air adalah anugerah, tanah adalah anugerah, dan panen pun adalah anugerah Tuhan. Dari sinilah lahir rasa syukur. Rasa syukur itulah yang menjadi inti Dharma. Masih berkaitan dengan Tatwa, masyarakat Jawa juga mengenal falsafah Memayu Hayuning Bawana, yaitu kewajiban manusia menjaga keharmonisan dunia. Karena itu, orang-orang tua dahulu selalu berpesan agar tidak merusak hutan, tidak mengotori mata air, dan tidak serakah terhadap alam. Nilai ini sejalan dengan ajaran Hindu bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam. Menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari pengabdian kepada Tuhan.

Saudara pendengar, kerangka kedua adalah Susila, yaitu perilaku yang luhur. Sejak kecil masyarakat Jawa diajarkan unggah-ungguh, tepa selira, menghormati orang tua, menghargai guru, hidup rukun, dan gemar bergotong royong. Dalam Hindu, semua itu sejalan dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir yang baik, berkata yang baik, dan berbuat yang baik. Mungkin leluhur kita tidak menyebut istilah Tri Kaya Parisudha. Namun nilai-nilainya telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, Dharma bukan hanya hidup di dalam kitab suci atau tempat ibadah. Dharma hidup dalam perilaku manusia.

Saudara pendengar, kerangka ketiga adalah Upacara, yaitu ungkapan bhakti kepada Tuhan. Tradisi seperti slametan, wiwitan, bersih desa, maupun nyadran sesungguhnya mengajarkan rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap sesama, dan keseimbangan dengan alam. Di sinilah keindahan Hindu. Hindu tidak datang untuk menghapus budaya yang luhur. Hindu memberikan makna spiritual sehingga budaya menjadi wadah, sementara Dharma menjadi jiwanya.

Saudara pendengar, Pulau Jawa juga menyimpan warisan peradaban Hindu yang sangat besar. Kita mengenal Candi Prambanan, kisah Ramayana dan Mahabharata, serta karya para pujangga yang melahirkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Semua itu menjadi bukti bahwa nilai-nilai Dharma pernah berkembang dan memberi warna bagi perjalanan budaya Nusantara. Namun perlu kita pahami bersama, bukan berarti semua budaya Jawa adalah Hindu. Yang benar adalah banyak nilai luhur budaya Jawa tumbuh berdampingan dengan ajaran Dharma melalui proses sejarah yang panjang.

Saudara pendengar, ada sebuah sloka indah dalam Bhagavad Gita Bab IV Sloka 11.

Ye yathā māṁ prapadyante
Tāṁs tathaiva bhajāmy aham.
Mama vartmānuvartante
Manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ.

Artinya, "Bagaimanapun manusia datang kepada-Ku, demikian pula Aku menerima mereka. Semua manusia menempuh jalan-Ku dengan berbagai cara." Sloka ini mengajarkan bahwa Tuhan melihat ketulusan hati manusia, bukan sekadar latar belakang budaya atau bahasanya. Karena itu, budaya yang mengajarkan kasih sayang, rasa syukur, penghormatan kepada Tuhan, sesama, dan alam, dapat menjadi jalan untuk menghidupkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara pendengar, sebelum kita mengakhiri perjumpaan hari ini, marilah kita renungkan bersama. Jangan sampai kita hanya mewarisi bentuk tradisinya, tetapi kehilangan maknanya. Jangan sampai kita masih melakukan slametan, tetapi lupa bersyukur. Masih melakukan bersih desa, tetapi tidak lagi menjaga lingkungan. Masih menghormati leluhur, tetapi melupakan nilai-nilai luhur yang mereka wariskan. Karena tradisi tanpa makna hanyalah kebiasaan. Namun tradisi yang dihidupi oleh Dharma akan menjadi jalan menuju kebijaksanaan. Mari kita rawat budaya Nusantara. Mari kita lestarikan kearifan Jawa. Dan mari kita hidupkan kembali nilai-nilai Dharma dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Karena Hindu bukan sekadar sebuah nama. Hindu adalah jalan Dharma yang mengajarkan manusia hidup selaras dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Saya Issa Widya Pramana pamit undur diri, sampai jumpa di siaran berikutnya.

Om Santih, Santih, Santih Om.

 

Penulis : Issa Widya Pramana, S.Pd. H

Penyuluh Agama Hindu Jawa Tengah


Dharma Wacana LAINNYA