GUNUNGKIDUL (BIMAS HINDU) – Keluarga adalah miniatur peradaban tempat benih-benih cinta kasih, toleransi, dan nilai-nilai ketuhanan pertama kali disemai. Mengusung kesadaran untuk merawat kerukunan umat beragama sekaligus membangun ketahanan keluarga melalui penghayatan ajaran spiritual, Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia Kabupaten Gunungkidul menyelenggarakan Dialog Lintas Agama pada Selasa (21/07/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Keluarga Bahagia Perspektif Agama” ini dipusatkan di Pura Podowenang, Kaliwaru, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Forum dialog yang inklusif ini menjadi wadah strategis untuk berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun fondasi rumah tangga yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.
Kegiatan yang berlangsung dalam nuansa kehangatan, kekeluargaan, dan semangat saling menghormati ini dihadiri oleh berbagai elemen penting pilar kebangsaan. Turut hadir membaur dalam dialog tersebut para penyuluh agama dari berbagai majelis, tokoh lintas agama, unsur pemerintah daerah, serta masyarakat umum dari beragam latar belakang keyakinan.
Dialog ini menghadirkan lima narasumber penyuluh agama yang mewakili agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gunungkidul, Made Neso, dalam paparannya menguraikan bahwa kebahagiaan keluarga dalam ajaran Hindu diwujudkan melalui pelaksanaan Grhastha Asrama (masa berumah tangga) yang berlandaskan ajaran Dharma (kebenaran).
“Kebahagiaan keluarga tercapai ketika setiap anggota keluarga menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpedoman pada ajaran Dharma. Nilai-nilai Tri Hita Karana mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam lingkungan sebagai dasar terwujudnya keluarga yang bahagia dan sejahtera,” terang Made Neso di hadapan para peserta.
Pandangan selaras mengenai kasih sayang dan tanggung jawab juga diutarakan secara bergantian oleh pemateri lainnya. Penyuluh Agama Islam, Abul Khosim Asy Syafek, menyoroti konsep keluarga bahagia dengan hadirnya ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Sementara itu, Penyuluh Agama Kristen, Kurnia, menegaskan bahwa rumah tangga dibangun di atas fondasi kasih tanpa syarat dan semangat saling mengampuni.
Dari kacamata Katolik, Yuliana Wijareni menjelaskan bahwa keluarga lahir dari Sakramen Perkawinan yang dikenal sebagai Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga tempat kasih dipraktikkan. Menyempurnakan rangkaian pandangan, Penyuluh Agama Buddha, Sutarni, menekankan pentingnya nilai Metta (kasih sayang) dan Karuna (welas asih) dalam menjaga kedamaian batin setiap anggota keluarga.
Meski memiliki pendekatan teologis yang beragam, seluruh narasumber sepakat bahwa kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian adalah fondasi universal kehidupan berumah tangga.
Dialog lintas agama ini menjadi wujud nyata bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang mempererat tali persaudaraan. Melalui kolaborasi antarumat beragama ini, diharapkan ketahanan keluarga di Kabupaten Gunungkidul semakin kokoh, sekaligus meneguhkan pilar-pilar moderasi beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.