Indonesia adalah hamparan mahakarya yang dirajut dari keberagaman adat, budaya, dan keyakinan. Di tengah keberagaman tersebut, pura tidak hanya berdiri sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu, tetapi juga menjelma menjadi simbol peradaban yang kaya akan nilai sejarah. Jika selama ini masyarakat luas lebih mengenal Pulau Bali sebagai pusat keberadaan Pura Besar, sejatinya salah satu pura yang disakralkan dan dituakan di Nusantara justru berdiri kokoh di tanah Jawa Timur.
Pura tersebut adalah “Pura Mandara Giri Semeru Agung”. Berlokasi di lereng timur Gunung Semeru, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pura ini memancarkan aura spiritualitas yang megah sekaligus menyejukkan. Keberadaannya bukan sekadar tempat pemujaan, melainkan wujud nyata dari akulturasi budaya universal antara gaya arsitektur Bali dan kejayaan material klasik era Kerajaan Majapahit.
Mitologi Kosmologis: Semeru sebagai Poros Bumi Nusantara
Pemilihan lokasi pembangunan Pura Mandara Giri Semeru Agung di lambung Gunung Semeru bukanlah sebuah kebetulan geografis, melainkan didasarkan pada konsep teologi dan kosmologi yang sangat kuat dalam susastra Jawa Kuno. Berdasarkan catatan kuno dalam kitab Tantu Panggelaran (sebuah karya sastra berbentuk prosa berbahasa Jawa Tengahan), dikisahkan bahwa pada masa purbakala, kondisi Pulau Jawa masih terombang-ambing, belum stabil, dan berguncang di tengah lautan (menggang-menggung).
Melihat kondisi tersebut, Batara Guru kemudian menitahkan para Dewa untuk memindahkan puncak Gunung Mahameru dari Bharatawarsa (India) ke Pulau Jawa untuk berfungsi sebagai paku bumi agar pulau ini menjadi seimbang dan stabil.
Dalam proses pemindahan spiritual tersebut, para Dewa menggotong puncak Mahameru ke arah timur. Sepanjang perjalanan, bagian-bagian dari puncak gunung tersebut ada yang gugur dan tercecer. Serpihan-serpihan yang jatuh itulah yang kelak tumbuh menjadi enam gunung suci di tanah Jawa, yaitu:
- Gunung Katong (Gunung Lawu)
- Gunung Wilis
- Gunung Kampud (Gunung Kelud)
- Gunung Kawi
- Gunung Arjuna
- Gunung Kemukus
Sedangkan potongan puncak utamanya menetap dan menjelma menjadi Gunung Sumeru (Semeru) yang membentuk poros spiritual dengan Gunung Bromo. Sejak saat itu, tanah Jawa menjadi tenang dan kokoh.
Bagi penganut paham Siwaistis, gunung tertinggi dipandang sebagai lingga acala (lingga alam yang tidak diciptakan manusia) sekaligus pusat buana (madyanikang bhuwana). Puncak gunung diposisikan sebagai tempat berstana Hyang Siwa Pasupati (Tuhan Yang Maha Esa). Oleh karena itu, mendirikan pura di kaki Semeru adalah bentuk penghormatan tertinggi umat Hindu terhadap poros spiritualitas Nusantara.
Catatan Sejarah: Perjuangan Dua Dekade Memendam Rindu
Tegaknya Pura Mandara Giri Semeru Agung di Desa Senduro tidak terjadi dalam semalam. Ada untaian air mata, kesabaran, dan perjuangan panjang selama nyaris 20 tahun yang dilalui oleh umat Hindu setempat. Keinginan untuk mendirikan sebuah pura yang representatif sebenarnya sudah bergelora sejak tahun 1969. Namun, keterbatasan dana serta proses perizinan yang rumit sempat membuat impian ini seolah sulit dijangkau. Selama dua dekade tersebut, umat Hindu di Lumajang harus puas melaksanakan persembahyangan (mabakti) di Sanggar Pamujan yang dibangun secara sederhana di tiap-tiap desa.
Titik terang mulai muncul dari jalinan hubungan spiritual antara umat di Jawa dan Bali. Berdasarkan kebutuhan ritual, setiap kali pura-pura besar di Bali (seperti Pura Agung Besakih) menyelenggarakan upacara berskala besar seperti Karya Ekadasa Rudra (pada tahun 1963 dan 1979), para pendeta (sulinggih) selalu melakukan ritual nuur tirta atau memohon air suci langsung ke Patirtaan Watu Kelosot yang berada di kaki Gunung Semeru.
Seiring dengan kemajuan transportasi, proses nuur tirta yang awalnya dilakukan secara jarak jauh (ngaskara dari Bali ke Semeru), mulai dilakukan dengan mendatangi lokasi secara langsung. Namun, kendala teknis muncul. Perjalanan darat dari Bali menuju Watu Kelosot memakan waktu 9 hingga 11 jam, sehingga umat sering kali harus bermalam di Lumajang.
Menginap di hotel umum dirasa kurang etis dan kurang pantas (tidak anut) ketika umat sedang membawa (ngiring) air suci yang baru saja dimohon dari petirtaan sakral. Atas dasar pertimbangan etis dan kesucian spiritual inilah, urgensi untuk mendirikan sebuah tempat suci di kaki Gunung Semeru menjadi tidak terbendung lagi.
Perjalanan legalitas pun berliku. Usulan awal pembangunan sempat ditolak oleh Bupati Lumajang kala itu karena alasan lokasi yang dekat dengan pemukiman non-Hindu.
Musyawarah Pimpinan Kecamatan sempat menawarkan opsi di Desa Kertasari, namun umat menolak karena wilayah tersebut merupakan daerah jalur aliran lahar aktif.
Hingga akhirnya, dipilihlah lokasi yang sekarang dengan luas awal yang sangat terbatas, yakni 25 x 60 meter (kemudian diperluas mencapai 3 Hektar). Tiga tahun setelah diajukan kembali, izin resmi dari aparat berwenang akhirnya turun.
Pembangunan pun dimulai secara bertahap. Uniknya, saat awal membangun bangunan suci utama (padmasana), bangunan tersebut sempat gagal dituntaskan meski telah dicoba dipindahkan posisinya. Hingga akhirnya, didapatkan sebuah petunjuk gaib (pawisik) agar bangunan dihadapkan ke arah selatan. Sejak arah bangunan diubah menghadap ke selatan, proses pembangunan berjalan dengan sangat lancar.
Pada tahun 1989, dibentuklah Panitia Gabungan Senduro-Bali yang melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Jero Gede Alitan Batur, Tjok Gede Agung Suyasa, dan Mangku Sueca dari Besakih. Guna akuntabilitas organisasi, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang merilis Surat Penunjukan Nomor 94/PHDI- LMJ/IV/1991 untuk Panitia Penggalian Dana. Dari modal awal fisik yang hanya Rp 40 juta, sumbangan sukarela (punia) mengalir deras dari umat di seluruh Indonesia hingga mengumpulkan miliaran rupiah, dan berhasil memperluas area pura hingga mencapai hampir 2 hektare.
Tepat pada Hari Minggu Umanis, Wuku Menail, tanggal 8 Maret 1992, digelar upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar dipimpin oleh delapan pendeta untuk menyucikan bangunan tersebut menjadi sebuah pura. Selanjutnya, pada bulan Mei 1992, PHDI Pusat mengeluarkan SK Nomor 07/Kep/V/PHDI/1992 yang secara resmi menetapkan nama tempat suci ini sebagai Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, yang berarti disungsung oleh seluruh umat Hindu di Indonesia.
Keagungan Arsitektur: Perkawinan Gaya Bali dan Estetika Majapahit
Berdasarkan kajian visual yang dirilis dalam Jurnal Mahasiswa Arsitektur Universitas Brawijaya oleh Winda Astutiningsih, Pura Mandara Giri Semeru Agung menampilkan visualisasi yang sangat menawan. Secara umum, ornamen dan tata ruangnya mengadopsi konsep arsitektur tradisional pura di Bali, namun disajikan dalam bentuk yang lebih bersahaja dan minimalis.
Kekhasan utama yang membedakannya dengan pura di Bali adalah penggunaan material bata merah lokal yang dominan pada dinding pembatas dan candi.
Penggunaan bata merah ini secara instan merefleksikan kemegahan arsitektur era Kerajaan Majapahit kuno. Selain itu, elemen arsitekturnya menampilkan bentuk visual segitiga pada kepala candi yang mengerucut ke atas, memberikan kesan yang dinamis, kokoh, sekaligus sakral.
Struktur spasial kompleks pura ini dirancang dengan sangat rapi, terbagi menjadi beberapa zona sakral yang fungsional:
Area Jaba Sisi (Halaman Luar)
Area ini menyambut pengunjung dengan Candi Bentar (Apit Surang) yang berdiri megah sebagai pintu gerbang luar. Di zona ini terdapat fasilitas pendukung upacara keagamaan, seperti:
- Bale patok dan bale gong (tempat perangkat gamelan).
- Gedong simpen (tempat penyimpanan) dan bale kulkul (menara kentongan suci).
- Pendopo (aula pertemuan), serta suci (dapur khusus untuk keperluan sesaji) dan bale patandingan.
Area Jaba Tengah (Halaman Tengah)
Memasuki area yang lebih dalam, pengunjung akan melewati Candi Kurung (Gelungkuri) yang membatasi wilayah luar dengan wilayah tengah.
Area Utama Mandala (Halaman Dalam / Tersuci)
Merupakan zona paling sakral dari seluruh kompleks pura. Di dalamnya terdapat berbagai bangunan suci berfilosofi tinggi, meliputi pangapit lawang, bale ongkara, bale pasanekan, bale gajah, bale agung, bale paselang, anglurah, tajuk, dan pusat dari seluruh pemujaan: Padmanabha (Padmasana) yang menjulang agung sebagai stana utama untuk memuja Hyang Widhi Wasa.
Di luar zona utama, pada kontur tanah yang agak menurun di sisi timur, dibangun pula pasraman sulinggih (tempat tinggal pendeta), bale pagibungan (tempat makan bersama), serta dapur umum. Sementara di sisi selatan berdiri bangunan wantilan yang megah dan luas untuk menampung aktivitas sosial budaya umat.
Teo-Ekologis: Filosofi Gunung sebagai Hulu Kehidupan
Dalam perspektif Ditjen Bimas Hindu Kemenag, keberadaan pura di gunung bukan sekadar tentang estetika tempat ibadah, melainkan media edukasi teologis mengenai kesadaran ekologis (lingkungan hidup). Dalam kosmologi Hindu, kesemestaan dibagi menjadi tiga alur siklus:
- Gunung - Merupakan HULU (Kawasan Tersuci / Sumber Air)
- Danau - Merupakan TENGAH (Penampung Air Suci)
- Laut - Merupakan HILIR (Tempat Akhir / Penyucian)
Dari gunung yang lebat ditumbuhi pepohonan, air menyerap ke dalam tanah dan menyembul menjadi mata air suci (tirta), mengalir melintasi sungai, mengairi petak- petak sawah, tegalan, dan parit-parit, memberikan kehidupan bagi segenap makhluk hidup, sebelum akhirnya kembali ke laut. Panas matahari kemudian menguapkan air laut menjadi mendung, dan hujan kembali turun di atas gunung. Siklus ini berputar tiada henti.
Oleh sebab itu, ketika umat Hindu menggelar upacara besar seperti Ritual Tawur di Pura Mandara Giri Semeru Agung, getaran kesucian dan doa keselamatan tersebut diharapkan mengalir ke dataran bawah di hilirnya demi kerahayuan alam semesta (jagadhita). Ada kesadaran ekologis yang kuat di sini: menghormati gunung berarti menjaga kelestarian hutan dan air demi keberlangsungan peradaban manusia.
Simbol Moderasi dan Penggerak Roda Ekonomi Umat
Hal paling indah dari keberadaan Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah dampak sosial-kemasyarakatan yang ditimbulkannya. Kehadiran pura ini tidak hanya menaikkan pamor Desa Senduro di tingkat nasional, tetapi juga menjadi bukti empiris bagaimana nilai spiritualitas mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat lintas agama di sekitarnya.
Setiap kali hari suci tiba seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, atau hari Pujawali ribuan umat Hindu dari berbagai penjuru Nusantara berbondong-bondong datang ke Senduro. Fenomena kunjungan religi ini menciptakan multiplier effect bagi perekonomian warga lokal yang mayoritas non-Hindu.
- Sektor UMKM: Warung-warung makanan, kios cinderamata, dan penjual kaos berlogo Semeru Agung tumbuh subur dan berkembang pesat.
- Sektor Akomodasi: Penduduk di sekitar pura memanfaatkan rumah mereka menjadi homestay atau kamar sewaan. Banyak pula penginapan baru yang dibangun oleh masyarakat setempat untuk menampung umat yang hendak bersembahyang.
Di sinilah indahnya moderasi beragama terwujud nyata. Pura Mandara Giri Semeru Agung tidak hanya memancarkan vibrasi kesucian religius ke dalam batin umat yang memujanya, tetapi juga membuahkan kesejahteraan ekonomi yang riil bagi warga sekitar. Kehadiran pura ini menjadi jembatan emas yang menghubungkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kelestarian alam, sekaligus merajut tali kerukunan antarsesama dalam bingkai NKRI.
Sumber Referensi : detik.com